Belajar dari Bintang, Bulan, dan Matahari

Belajar dari Bintang, Bulan, dan Matahari
Ilustrasi. unsplash

KEBERADAAN,  bintang, bulan, dan matahari merupakan bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Dari sekian banyak benda-benda langit, bintang, bulan, dan matahari merupakan benda-benda langit yang paling banyak disebutkan dalam al Qur’an. 

“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bulan, sehingga setelah ia sampai ke tempat peredarannya yang terakhir, kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya” (Q. S. Yasin : 38 – 40).

Jika kita merenung sejenak, keberadaan, bintang, bulan, dan matahari sarat filosofi bagi kehidupan kita. Matahari yang disepakati para ahli merupakan pusat tata surya, selain selalu konsisten di garis peredarannya, juga selalu adil dalam membagi cahaya dan kehangatannya. Sang pusat tata surya ini tak pernah membedakan, suku, ras, dan agama dalam membagi cahaya dan kehangatannya.

Kita selayaknya belajar dari matahari, dalam berbuat kebaikan dan  menegakkan nilai-nilai universal kemanusiaan. Selain istikamah dalam berbuat kebaikan,  selayaknya pula kita bisa memperlakukan semua orang dengan baik. Kehadiran kita di tengah-tengah kehidupan antar sesama manusia,  selayaknya menjadi orang-orang yang selalu memberi kehangatan dan memberi cahaya yang dapat menuntun orang untuk selalu berbuat kebaikan.

Berbeda dengan matahari, bulan disepakati para ahli merupakan benda langit yang tak memiliki cahaya. Garis edar bulan bersebrangan dengan garis edar matahari. Ketika berseberangan dengan matahari, bulan mendapatkan pancaran cahaya dari matahari. Filsosofi sederhana yang dapat kita ambil dari peredaran bulan yang bersebrangan dengan matahari ini adalah ketika pendapat kita bersebrangan dengan orang lain, selayaknya kita mendapatkan cahaya kebaikan, atau setidaknya mendapatkan tambahan ilmu. 

Ketika bulan dan matahari berhadap-hadapan, dalam posisi yang sejajar, maka yang terjadi adalah gerhana. Bumi yang selalu terang dengan cahaya kedua benda langit tersebut menjadi gelap.

Filosofinya, jika kita berbeda pendapat atau terjadi perselisihan seraya masing-masing dari kita bertahan dengan pendapat masing-masing, mempertahankan sikap egoisme, tidak ada yang mau mengalah, apalagi mencari jalan keluar, hal ini akan mengakibatkan “gerhana” dalam kehidupan. Saling bermusuhan, saling ancam, dan saling membenci merupakan gerhana kehidupan yang  muncul di tengah-tengah kehidupan.

Jika yang berhadap-hadapan dan berselisih  itu para pemimpin umat, maka yang akan merasakan gerhana kehidupan adalah umat yang dipimpinya. Jika yang berhadap-hadapan dan berselisih itu para pejabat, pemimpin suatu bangsa, maka yang akan merasakan gerhana kehidupan adalah rakyat yang dipimpinnya.

Suatu ketika, Abu Sulaiman ad-Darani, salah seorang ulama sufi memberikan nasihat kepada salah seorang muridnya, Ahmad bin Abul Hiwari. “Ya, Ahmad. Jadilah kamu seperti bintang. Jika tidak menjadi bintang, jadilah bulan. Jika tidak menjadi bulan, jadilah matahari.”

Sang murid bertanya, “Wahai guru, bulan itu lebih terang daripada bintang,  dan matahari pun lebih terang daripada bulan. Mengapa engkau membalikan urutannya?”

“Hai Ahmad, yang aku maksud dengan jadilah kamu seperti bintang yang terbit mulai dari permulaan malam hingga fajar adalah beribadahlah kepada Allah mulai dari permulaan malam sampai pagi hari. Jika kamu tidak sanggup beribadah setiap malam, jadilah seperti bulan yang muncul pada malam-malam tertentu, kemudian  ia sirna. Artinya, kamu beribadah kepada Allah dengan khusyuk pada waktu-waktu tertentu.” Jawab sang Guru.

Tak sampai disana saja, kemudian sang guru melanjutkan petuahnya, “ Jika kamu pun masih tidak sanggup seperti bintang dan bulan, jadilah seperti matahari yang terbit dari pagi hari sampai sore hari. Artinya jika kamu tidak mampu beribadah pada malam hari, janganlah kamu berbuat maksiat kepada Allah pada siang hari.”

Inti dari nasihat guru sufi tersebut adalah kita harus mampu berbuat kebaikan, beramal, dan beribadah sesuai dengan kemampuan kita. Satu hal lagi yang paling penting, kita tidak berhenti beribadah seraya berupaya keras  mengurangi intensitas perbuatan dosa dan kemaksiatan. ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...