Bahasa Kebutuhan Dasar di Era Saiber

Bahasa Kebutuhan Dasar di Era Saiber
Ilustrasi/beliefnet

Apabila langit mendung, maka tanda akan turun hujan. Namun, apakah tanda mendung dan hujan masih berlaku di zaman sekarang? Di mana langit setiap hari penuh oleh polusi asap kendaraan juga pabrik. Begitu pula dengan tanda-tanda lain seperti menyalakan lampu sein kiri, lalu belok ke kanan. Dan banyak lagi, banyak lagi perubahan dan perluasan makna yang ditemukan di dunia nyata maupun di dunia maya.

Literasi basis dari hak asasi manusia 

“Literasi basis dari hak asasi manusia” Prof. Djoko Saryono. Prof. Djoko kemudian melanjutkan pembicaraannya mengenai literasi basis dari hak asasi manusia, terutama kebebasan berkespresi.

Menelisik dari apa yang disampaikan oleh Prof. Djoko Saryono mengenai “Literasi basis dari hak asasi manusia”, saya langsung berpikir bahwa literasi menjadi kebutuhan pokok manusia. Terutama manusia modern (manusia modern dalam pandangan saya adalah manusia pada konteks yang sudah mengenal gadget dan internet), di mana perangkat-perangkat elektronik seperti handphone, lapotop, dll tidak dapat dipisahkan dari manusia itu sendiri. Tidak terkecuali ketika pandemi.

Pandemi banyak mengubah dunia kerja, kemudian mengenal dengan istilah hybrid. Lalu muncul istilah esensial, non esensial, kritikal, dll. Hal-hal yang berkaitan dengan pandemi apabila dicermati banyak melahirkan istilah serta diksi baru di masyarakat. Termasuk juga istilah PSBB juga PPKM. Apabila menyambungkan dengan apa yang disampaikan oleh Prof. Djoko Saryono mengenai “Literasi basis dari hak asasi manusia”, maka akan menemukan apa yang kemudian kita sebut dengan asumsi, asersi, juga opini dalam kebebasan berekspresi.

Prof. Djoko Saryono sebetulnya pada paparan diskusi peringatan ke 16 Forum TBM, Minggu (11/7/21) ingin mengatakan bahwa berbicara dan menulis adalah hak asasi manusia. Terlebih di Indonesia masih banyak terdapat buta aksara, terutama di Indonesia tengah dan timur. Kemudian muncul pertanyaan mengenai kebebasan berekspresi?

Era saiber, banyak memungkinkan orang-orang berkespresi lewat opini atau memberikan asersi terhadap objek tertentu, Covid-19 misalnya. Banyak pro dan juga kontra terhadap Covid-19, ada pula yang bilang bahwa Covid-19 adalah konspirasi, dll. Bahkan ada yang bersentuhan dengan hukum ketika mengekspresikan lewat oral maupun teks. Adanya pro dan kontra terhadap objek Covid-19, saya melihat adalah proses literasi. Paling tidak ada dua proses literasi, pertama literasi baca tulis, lalu literasi digital.

Maksud saya, di satu sisi setiap manusia memiliki hak untuk berkespresi, namun di sisi lain terbentur dengan aturan-aturan yang sudah dibuat oleh sistem. Terlebih adanya UU ITE, salah bicara atau salah upload gambar di media sosial langsung terkena pasal.

Kemudian muncul pertanyaan berikutnya, “Apa masyarakat sudah paham dan sadar mengenai literasi digital?” Ketika manusia memiliki hak untuk berlitreasi, kemudian muncul kebutuhan baru. Kebutuhan hidup di era digital. Ruang semu yang sangat riuh. Ruang mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Di mana bahasa Indonesia tidak dipandang sebagai martabat bangsa. Penyingkatan bahasa, interpretasi bahasa, peluasan makna sering terjadi di ruang semu yang riuh tersebut. Yang muncul kemudian asumsi, opini, dan asersi kembali.

Proses Berliterasi di Era Siber

Siber pada KBBI artinya sistem komputer dan informasi, dunia maya, berhubungan dengan internet. Pada wilayah saiber adanya perangkat berupa komputer, telepon pintar serta internet. Apabila hanya ada komputer tidak ada internet, maka akan pincang. Begitu pula sebaliknya, ada internet tetapi tidak ada telepon pintar maka akan pincang.

Ketika berbicara Siber, maka pikiran saya diarahkan pada tokoh pada film The Matrix yang bernama “Neo”. Neo adalah penjahat saiber dan seorang programer komputer. Mungkin apabila divisualkan, maka siber kira-kira seperti yang ada di film The Matrix. Namun kali ini saya akan berbicara mengenai literasi di era saiber.

Indonesia belum terlalu lama mengenal internet serta komputer atau telepon pintar. Namun sudah dapat dikatakan cukup untuk mengenal seluk beluk digital. Meski “belum”semua dapat mengakses internet. Paling tidak berbicara manusia urban yang tidak dapat lepas dari internet.

Manusia-manusia urban ini yang kemudian mencipta komunal, pekumpulan, dan keriuhan di dunia maya. Lalu dikenal sebagai netizen. Di mana semua ideologi ada di dunia ini. Akan tetapi keramahan terhadap kecakapan berbahasa sangat kurang. Mungkin orang-orang tidak mengindahkan bahasa, melainkan lebih pada praktik prakmatik bahasa (yang penting apa yang mau disampaikan tersampaikan).

Proses literasi di era saiber, dapat dimulai dari bahasa. Bagaimana netizen ini dapat menggunakan bahasa (terutama bahasa Indonesia) diposisikan sebagai bahasa yang bermartabat. Cermin intelektual terlihat dari bahasa. Bukan memperlakukan bahasa seenaknya saja. Bahasa adalah sebuah sistem tanda yang memiliki fungsi penyampai ide atau gagasan, hancur di era saiber ini.

Fungsi literasi di era saiber adalah bagaimana caranya memperlakukan bahasa ini dengan baik dan sopan, sebelum masuk pada literasi digital. Sebab, apabila bahasa masih “kacau” proses pemahaman terhadap literasi digital akan bermasalah. Maka akan dikatakan gegar digital, lebih jauh lagi gegar budaya.

Tabik.

Heri Maja Kelana, Pengurus Pusat Forum Taman Bacaan Masyarakat

Komentar

Loading...