Puisi-puisi Tabrani Yunis

Anak-Anak Menggenggam Gawai

Anak-Anak Menggenggam Gawai
Tabrani Yunis

Anak-Anak Menggenggam Gawai
Tabrani Yunis

Anak-anak milenia, penguasa alam maya, menggenggam dunia dengan jari-jemari menari-nari di layar angkasa, sambil menikmati gemerlap semesta maya. Hidup tak lagi memaksa bertahan dengan penuh asa. Karena asa dan cita terkubur di dunia maya

Anak-anak milenia, tengah mengarungi belantara, mau kemanakah mereka? Berjalan meraba-raba di kegelapan dan gemerlapnya dunia maya. Dilepaskan semua tali kekang, merdeka mengejar asa, tanpa nahkoda.

Anak-anak milenia lupa membaca gejala alam maya, musim terus berubah-ubah, sekejap waktu mengubah cita. Tak resah menghadang ombak raksasa menyapu segala, terlena dalam lamunan sandiwara.

Anak-anak milenia kian manja di dunia maya, seperti segala akan tidak ada kendala, padahal suatu ketika, petaka datang menyapa, semua terbujur tak berdaya.

Anak-anak milenia, Diperdaya banyak goda dan kenikmatan dunia, berpacu mengejar asa utopia,
Anak-anak milenia tak berdaya diperdaya manja, tak berdaya melawan petaka.
Anak-anak zaman, penghuni alam maya,

Kehilangan isi dada, banyak berfikir, apalagi berzikir kian tiada. Mau kemana anak---anak milenia melabuhkan cita? jalan penuh cahaya, mata hilang rasa. Jangan simpan asa dalam manja. Gawai menjadi dewa

Banda Aceh, 2019

Lumpur Emas
Tabrani Yunis

Luka menganga di Puuwonea, Andowia, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Banjir bandang menghadang tanpa ada aba-aba. Memupuskan asa tanpa kata. Hanya suara sengsara penuh derita

Banjir bandang di Puiwonea, menenggalamkan cita-cita anak bangsa yang digantung di hutan belantara. Lumpur mengalir berwarna emas menenggelamkan rumah-rumah menjadi tanah, sawah nan subur hancur jadi nanah. Hidup semakin susah dan payah.

Peluh susah mengucur jadi darah

Banjir bandang di Puiwonea tak pernah diundang. Namun, jangan salahkan banjir yang dari pegunungan menjulang. Banjir tak datang bila hutan tak ada tambang.

Banjir bandang di Puuwonea menggali jurang hidup yang kian tajam. Para penguasa dan pengusaha berpesta pora. Hidup mewah bergelimang harta. Sementara Korban bencana di Puuwonea tak henti menelan ludah yang kian kering di rongga dada. Bukan dunia yang zalim dan kejam, bisa jadi penguasa dan pengusaha mati rasa.

Lihatlah tanah mengeras menjadi timah, keringat rakyat menjadi nanah
Kemana mereka harus pindah
Banjir bandang di bulan juni lalu itu, tlah berbuah musibah
Orang-orang kecil memang harus tabah, walau tak henti dihempas musibah air bah

Banda Aceh, 2019

Lesten Negeri Yang Bakal Terkubur Tampur
Tabrani Yunis

Kampung kita
Ini kampung kita,
Ini tanah kelahiran kita,
Ini tanah tumpah darah kita
Ini tanah kita berkembang biak
Di sini sawah, ladang dan tempat kita beternak
Ini rimba belantara kita bersama satwa langka beranak pinak
Ada sumber air kehidupan semua mahkluk
Ya ini memang tanah kehidupan kita
Lihatlah
Tataplah

Pandanglah sejauh mata menyelia
Semua akan sirna
Sebentar lagi bukan milik kita
Kampung kita bukan lagi milik kita
Kampung kita bukan lagi sumber kehidupan kita
Kampung kita kan menjadi kolam raksasa
Kampung kita akan tenggelam di tangan penguasa dan pengusaha
Kampung kita kan binasa
Tak ada lagi kelahiran
Tak kan ada lagi sawah ladang untuk sumber makanan
Tak ada lagi satwa langka

Semua akan tenggelam di tangan penguasa dan pengusaha yang lapar dan dahaga
Kampung kita lesten akan terkubur lumpur
Kampung kita Lesten bukan lagi milik kita mengolah lumpur dan tanah subur
Semua akan hancur demi Tampur
Mungkin ini adalah kenangan terakhir
Mungkin ini adalah pandangan sihir
Kita tak kuasa melawan para penyihir
Semua akan berakhir

Bukan lagi kampung kita, bukan lagi tanah tumpah darah kita. Bukan lagi tanah leluhur yang bisa diwariskan buat anak cucu yang resah.

Banda Aceh, 2019

Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, 10 Oktober 1962. Mulai berekpresi lewat puisi sejak tahun 1992. Kala itu, puisinya yang dimuat di Serambi Indonesia berjudul “Perkutut Kampung Yang Tersesat di Belantara Jakarta”. Kemudian dia terus menulis puisi yang dimuat di beberapa media, termasuk majalah POTRET, Kompasiana dan lainnya. Kini masih terus menulis di usia yang mendekati senja.

Puisi-puisi ini pernah dimuat di kompasiana.

Komentar

Loading...