AMBAK

AMBAK
Ilustrasi: Memperbaiki Diri Ala Kaum Muhajirin

Oleh: Ade Sudaryat

AMBAK, mengambak artinya menambak atau menggalang supaya tinggi; bentuk pasifnya diambak artinya digalang supaya tinggi (Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI, 2005 : 36).

Dari kata tersebut lahir sebuah peribahasa yang sarat makna, “subur karena dipupuk, besar karena ditambak; besar diambak, tinggi dianjung. Arti dari peribahasa ini orang besar atau tinggi kedudukannya karena dimuliakan oleh anak buahnya atau pengikutnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selayaknya mengambak diri. Selalu menanam dan memupuk  ilmu dan amal,  perbuatan dan perilaku baik agar derajat kehidupan kita baik secara sosial maupun spiritual semakin tinggi dan mulia.

Dalam hal mengambak dan memperbaiki diri, orang Jepang memiliki prinsip kaizen. Masaaki Imai dalam bukunya The Kaizen Power (2008 : 43) menyebutkan, secara bahasa kaizen berarti perbaikan diri secara terus menerus. Pesan dari prinsip kaizen ini adalah tidak ada satu hari pun yang dijalani tanpa adanya perbaikan terhadap diri, lingkungan, dan tempat kita bekerja.

Sebagai upaya memperbaiki kualitas diri, jika orang Jepang memiliki prinsip kaizen, kita pun bisa menerapkan ambak, menggalang ilmu, amal, dan perilaku baik. Dalam praktiknya, kata ambak ini bisa kita laksanakan sebagai sebuah akronim dari “Apa Manfaatnya BagiKu”.

Di tengah-tengah kehidupan yang semakin global yang serba super cepat ini, kita harus menyempatkan diri untuk selalu bertanya, “apa manfaatnya bagiku”.  Hal ini penting, sebab pada arus kehidupan yang serba cepat seperti sekarang ini, terkadang kehidupan kita hanya mengikuti arus trend. Gaya hidup kita ingin sama dengan orang lain tanpa memperhatikan lagi kemampuan diri, kondisi diri, manfaat dan mudaratnya bagi diri.

Dalam perjalanan hidupnya, Socrates (470 – 399 SM),  seorang filosof Yunani memberikan suatu pelajaran berharga bagi kita. Suatu ketika, ia kedatangan seorang tamu yang ingin mengabarkan perilaku sahabatnya.

“Baik. Sebelum Anda memberitahuku perilaku sahabatku, izinkan aku untuk mengajukan tiga  pertanyaan kepadamu.” Kata Socrates.

Pertama, “Apakah engkau benar-benar yakin dan percaya dengan kebenaran informasi yang ingin engkau sampaikan itu?”

Orang tersebut menjawab, “Sama sekali aku tidak mengetahui kebenarannya. Aku hanya mendengarkannya dari mulut ke mulut.”

Kedua, “Apakah berita yang akan engkau sampaikan itu mengandung nilai-nilai kebaikan?”

Orang tersebut menjawab, “Maaf aku hanya membawa kabar kurang baik tentang sahabatmu.”

Ketiga, “Apakah berita yang akan engkau sampaikan itu akan memberikan manfaat untukku, wahai saudaraku?”

Orang tersebut menjawab, “Maaf,  jangankan untuk Anda, untuk saya pun kurang bermanfaat. Saya hanya latah saja karena orang-orang banyak membicarakannya.”

Selanjutnya Socrates berkata, “Wahai saudaraku! Marilah kita renungkan, untuk apa kita menyampaikan sesuatu yang belum jelas kebenarannya, tidak mengandung kebaikan, dan tidak bermanfaat. Semua itu hanya membuang-buang tenaga, mengotori jiwa dan pikiran saja.”

Pada saat ini, kehidupan kita berada di tengah-tengah derasnya arus informasi dari berbagai media dan lini kehidupan. Hitungan informasinya bukan lagi harian, mingguan, atau bulanan, tapi sudah per detik. Saking banyaknya informasi yang terus berseliweran, kita sering kewalahan dan kebingungan dalam membaca, mendengarkan, dan menilai kebenarannya. Kita terkadang sangat kesulitan membedakan informasi yang sesuai dengan fakta dan informasi yang direka-reka, kemudian menjadi berita yang bernilai “sampah” alias hoax.

Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Bayang-bayang Tuhan, Agama dan Imajinasi (2011 : 251) menyebutkan, pada saat ini kita hidup di tengah-tengah berbagai polusi, salah satunya polusi informasi, yakni kegemukan informasi akibat komunikasi dan informasi yang melampaui batas. Pergantian informasi yang begitu cepat dan berganti-ganti, menyebabkan kita tidak mempunyai waktu lagi untuk memaknai pesan dan mengecek kembali kebenarannya. Informasi yang kita terima tidak lagi menawarkan kebenaran yang mendalam, selain hanya menampilkan permukaannya saja dengan informasi yang dangkal.

Karenanya menerapkan prinsip “Apa Manfaatnya Bagiku (Ambak)?” mutlak diperlukan agar kita tidak terjerumus kepada perbuatan sia-sia yang dapat mengotori pikiran, jiwa, dan akhirnya terjerumus ke dalam perbuatan dosa. Tanpa melakukan prinsip Ambak, kita hanya akan terjerumus kepada perbuatan mengikuti arus tanpa memikirkan manfaat dan mudarat dari informasi yang kita dapat. Pada akhirnya kita hanya menjadi orang-orang yang berpikiran dangkal dan mudah terprovokasi.

Islam telah memberikan wejangan, salah satu ciri seorang mukmin yang akan hidup bahagia adalah selain melaksanakan shalat dengan khusyuk, juga berani berpaling dari perbuaann sia-sia atau perbuatan yang tidak bermanfaat (Q. S. Al-Mu’minun : 1-3).

Demikian pula hadits Nabi saw mengatakan, “Sebagian dari ciri kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan perbuatan yang tidak akan memberikan manfaat kepada dirinya” (H. R. at – Tirmidzy, Yahya bin Syarifudin an Nawawi, al Arba’in Nawawiyah, hadits nomor 7).

Mari kita belajar arif dalam menjalani kehidupan kita, terutama ketika kita mendapatkan suatu informasi. Awalilah selalu dengan pertanyaan “Apa manfaatnya bagiku?”

Kehati-hatian dalam menjalani kehidupan ini, mempertimbangkan kemaslahatan dan kemudaratan suatu informasi yang didapat, bukan hanya memenuhi hasrat kesenangan ragawi, merupakan upaya mengambak kehidupan kita  agar semakin mulia bukan saja di dunia, tapi juga di alam keabadian.***

Penulis, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Qurrata A’yun Samarang Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...