Alue Ie Mirah Negeri Potensi, Adakah yang Peduli?

Alue Ie Mirah Negeri Potensi, Adakah yang Peduli?
Dwi Chandra Pranata dengan latar belakang produksi migas di Alue Ie Mirah Aceh Timur

Alue Ie Mirah, desa yang menjadi ibukota Kecamatan Indra Makmu, Aceh Timur merupakan daerah yang menjadi tolak ukur masyarakat dan pusat perputaran perekonomian bagi masyarakat kecamatan Indra Makmu. Kecamatan yang kaya sumber daya alamnya. Sejak masa pemerintahan orde baru daerah ini menjadi penghasil migas dan kayu hutan dengan kualitas yang sangat baik. Masih terbayang begitu banyak hasil alam yang keluar dari daerah ini. Sebut saja perusahaan Raja Garuda Mas yang bergerak di bidang kayu, Asamera Oil salah satu perusahaan besar dunia yang bergerak dibidang permigasan, belum lagi perkebunan yang sejak masa penjajahan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari daerah ini.

Hari ini, daerah ini masih menjadi potensi dan tentu menjadi penghasil keuntungan bagi negeri yang kita cintai. Keuntungan yang tidak sekedar mengalir ke sumber dana kabupaten atau provinsi, tapi juga negara ini walaupun sedikit tentu memperoleh keuntungan dari potensi yang ada didaerah ini. Ya, daerah yang kaya akan penghasilan sumber daya alamnya, daerah yang kaya akan potensi wisatanya.

Tapi sayang, daerah ini hanya dijadikan daerah penghasil, daerah produksi. Tapi bukan sebagai daerah penikmat hasil dan juga bukan daerah yang bisa memetik hasil dari segala potensi yang ada. Mungkin bayangan orang diluar sana, seharusnya daerah ini menjadi kecamatan maju yang di Aceh Timur atau bahkan di Aceh. Sama, itu juga menjadi bayangan bagi kami masyarakat yang tinggal di daerah tersebut.

Ternyata, bayangan itu hanya sekedar harapan kosong yang sangat jauh dengan realita. Hukum timbal balik seakan tidak berlaku bagi daerah ini. Daerah yang penuh dengan potensi, tapi seakan tidak terurus dan bahkan layaknya daerah terjajah. Bisa kita lihat hari ini, yang katanya penghasil gas terbesar di Aceh tapi daerahnya masih kekurangan arus listrik, hampir tiap hari mati dan jikapun nyala arusnya tidak mencukupi dan justru merusak berbagai alat elektronik kami.

Daerah yang juga terdapat perusahaan perkebunan baik BUMN ataupun swasta, tapi hari ini kenyataannya daerah ini sangat sedikit jalan yang dikategorikan layak untuk dilalui. Jalan lintas akses utama kecamatan hari ini juga banyak yang belum diaspal, bolong-bolong seakan sudah menjadi pemandangan biasa, jembatan yang tidak layak dan kubangan ditengah jalan seakan juga sudah menjadi daya tarik bagi daerah kami. Belum lagi kita berbicara kesejahteraan masyarakatnya, berbagai fasilitas publik yang masih jauh dari seharusnya.

Ironis memang, ketika kita melihat antara teori dengan realita. Siapa yang patut disalahkan? Tentu kita bukan pada ranah mencari kambing hitam. Siapa yang seharusnya peduli dengan daerah kami? tentu kita sebagian dari kita bisa menjawab dalam kapasitas kita sebagai anak negeri. Kepedulian dari kita masyarakat, kepedulian dari mereka para pengambil kebijakan, kepedulian dari mereka yang hari ini memiliki kewajiban membangun daerah dan mensejahterakan rakyatnya.

Kami anak negeri yang butuh kepedulian itu. Pemimpin sampai tingkat desa juga bertanggungjawab dalam mengelola sumber daya daerahnya dan memperhatikan kondisi masyarakat dan fasilitas dari dari daerah penghasil sumber daya. Belum lagi ada yang dewan yang hari ini bertugas mengawasi, menjadi fasilitator, dan menyampaikan aspirasi dari kami anak negeri yang jauh dari kasih sayang ibu pertiwi.

Kepedulian yang seharusnya kami dapatkan, dan menjadi hak kami sebagai masyarakat yang hari ini melihat berbagai kekayaan alam daerahnya keluar dan menjadi penghasil keuntungan bagi negeri ini. Bukan hal mewah yang kami inginkan, kami hanya butuh kepedulian yang dapat memberikan rasa aman, nyaman, dan ketenangan bagi kami masyakarakat pedalaman.

Ketika akses jalan, jembatan, nyaman kami lalui, ketika arus penerangan juga nyaman kami nikmati, dan ketika akses kesehatan juga mudah kami temui, rasanya itu sudah menjadi kenikmatan dan kebahagiaan bagi kami masyarakat negeri yang selama ini rindu kepedulian itu. Bukan tanpa dasar kami mengeluh, tapi sudah terlalu banyak ketabahan kami selama ini. Kami melihat keindahan daerah lain, dan tentu kami juga ingin merasakannya. Karena kami juga bagian dari orang-orang yang mencintai Rebublik ini.

Wallahu’alam

Dwi Chandra Pranata, S.Psi, Putra Alue Ie Mirah, Ketua Ikatan Alumni SMAN Unggul Aceh Timur

Komentar

Loading...