Al Qur’an itu Memuliakan

Al Qur’an itu Memuliakan
Ilustrasi.net

MAU kemana kamu?” tanya Nu’aim bin Abdulllah ketika berpapasan dengan orang yang menghunus pedang.

“Saya sedang mencari Muhammad.  Ia telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan dan kepercayaan orang Quraisy. Ia pun telah memecah belah persatuan dan kesatuan kaum  Quraisy. Saya harus  membunuhnya.”

“Anda menipu diri sendiri. Apakah Anda mengira Abdul Manaf akan membiarkanmu setelah kamu berhasil membunuhnya?  Demi Allah,  tidak! Ia dan keturunannya akan melakukan balas dendam dengan membunuhmu. Aku kira, kamu lebih baik mengurus keluargamu saja yang telah menjadi pengikut Muhammad. Adikmu telah berbaiat menjadi pengikut Muhammad.” Kata Nu’aim selanjutnya.

Orang yang menghunus pedang tersebut terperanjat dan benar-benar terpukul mendengar perkataan temannya tersebut. Ia segera menuju rumah saudaranya yang telah memeluk Islam. Ketika sampai di rumahnya, ia mendengar adiknya, Fatimah binti Khattab dan suaminya, Said bin Zaid bin Amr, sedang mendengarkan surat Thaha yang dibacakan oleh Khabbab bin Al-Arat.

Tanpa basa-basi lagi, orang yang menghunus pedang tersebut memasuki rumah sang adik sambil memarahi mereka berdua yang telah menjadi pengikut Muhammad. Tamparan sang kakak mendarat di wajah halus sang adik dan suaminya.  Tak sampai disitu, ia merebut lembaran  al Qur’an yang dipegang adiknya. Meskipun adiknya sekuat tenaga mempertahankannya, lembaran al Qur’an tersebut dapat direbut orang tersebut.

Sang adik dan suaminya tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya memandang sang kakak yang sedang membaca dan menelaahnya. Ia terus mengulang-ngulang bacaannya beberapa kali. Akhirnya, ia berkata kepada sang adik, “Sungguh indah dan mulia kata-kata ini!”

Orang yang menghunus pedang tersebut tiada lain adalah Umar bin Khattab. Ia begitu terpukau dengan keindahan bahasa al Qur’an dan kedalaman maknanya. Jiwanya bergetar, hatinya luluh.

Tekad bulat untuk membunuh Nabi Muhammad saw terkalahkan oleh keindahan dan kedalaman makna-makna kalimat al Qur’an.

Singkat cerita, ia masuk Islam dan menjadi salah seorang sahabat Rasulullah saw yang terkemuka. Ia mendalami al Qur’an, mempraktikan isi dan kandungannya dalam kehidupan, dan ia menjadi orang mulia dan tokoh yang disegani dari sekian banyak sahabat Rasulullah saw.

Tahun 2020 M/1442 H,  Muhammad Gifari Akbar (16 tahun), seorang remaja, pemulung asal Garut Jawa barat  telah benar-benar merasakan kemuliaan al Qur’an. Ia benar-benar terangkat derajat kehidupannnya, dan “pensiun”  dari pekerjaannya sebagai pemulung setelah bertemu Syaikh Ali Jaber. Ia dipesantrenkan di salah satu pondok pesantren dan diajak melaksanakan ibadah umrah.

Sang remaja yang  kesehariannya  bekerja sebagai pemulung ini menjadi viral setelah ia diambil fotonya oleh seseorang ketika sedang membaca al Qur’an di trotoar bilangan braga. Konon kabarnya, hujan turun deras ketika ia tengah melakukan aktivitasnya  sebagai pemulung. Ia pun berteduh di pinggiran sebuah toko. Sambil menunggu hujan reda, ia membaca al Qur’an yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.

Tak dinyana, ada seseorang mengambil gambarnya dan diunggah ke media sosial. Gambarnya viral dan menjadi perbincangan orang. Informasi ini sampai kepada Syaikh Ali Jaber seorang ulama ahli al Qur’an. Ia pun dimuliakan dan dihormati sang ulama. Salah satu penghormatan yang diberikan kepadanya adalah ia dipesantrenkan di pondok pesantren milik Syaikh Ali Jaber dan diajaknya melaksankan ibadah umrah.

Jelas sudah janji Allah, siapapun orangnya yang memuliakan al Qur’an, ia akan diberi kehidupan yang mulia di dunia dan akhirat, dan barangsiapa yang menghinakan al Qur’an, ia akan diberikan kehidupan yang hina di dunia dan akhirat.

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat beberapa kaum melalui kitab ini (al Qur’an) dan Dia akan menghinakan beberapa kaum lainnya.”  (H. R. Muslim).

Harus kita yakini, al Qur’an merupakan bacaan mulia dan pedoman hidup. Al Qur’an merupakan puncaknya berzikir kepada Allah setelah ibadah shalat. Sudah selayaknya kita menjadikan al Qur’an sebagai bacaan utama sebelum bacaan-bacaan lainnya. Malahan berdoa yang paling utama adalah berdoa dengan membaca al Qur’an. Kesibukan yang paling utama adalah kesibukan membaca, memahami, dan menggali kandungan al Qur’an.

“Barangsiapa yang menyibukkan diri dengan al Qur’an daripada berzikir kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberikan kepadanya  sesuatu  yang lebih utama daripada apa yang telah Aku berikan kepada orang-orang yang  meminta kepada-Ku, sedangkan keutamaan kalam Allah jika dibandingkan dengan seluruh perkataan adalah seperti keutamaan  Allah atas seluruh makhluk-Nya.”  (H. R. Tirmidzi, Darimi, dan Baihaqi).

Janji Allah dan Rasul-Nya sudah pasti, kemuliaan akan diberikan kepada orang-orang yang membaca, memahami, menggali, dan mengamalkan kandungannya. Sekarang tinggal kembali kepada diri kita, sudah sejauh mana kita mempelajari al Qur’an, memahami, menggali, dan mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari?

Jika pertanyaan tersebut masih terlalu berat untuk menjawabnya, mari kita renungkan dengan hati dan pikiran yang tenang, berapa jam dalam sehari kita bisa membaca al Qur’an?  Berapa kali dalam sebulan atau setahun kita bisa mengkhatamkan membaca al Qur’an? ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...