Al Mukhbithun

Al Mukhbithun
Ilustrasi. istock

KATA “al mukhbitun” hanya disebutkan tiga kali dalam al Qur’an. Dua kali dalam bentuk fi’il (kata kerja) yakni dalam  surat Hud : 23 dan surat al Hajj : 54, satu kali dalam bentuk isim (kata benda) jamak, yakni dalam surat al Hajj : 34. 

Dilihat dari asal katanya, “al mukhbitun” berasal dari kata “khabata” seperti yang disebutkan dalam surat Hud : 23. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri (akhbatu) kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya”

Kata dasar dari “al mukhbitun” yang serupa disebutkan pula dalam surat al Hajj : 54. “Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya al Qur’an itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk (fatuhbita) hati mereka kepada-Nya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.”

Ketika menafsirkan ayat tersebut, Imam al Qurthuby dalam karyanya “al Jami al Ahkam al Qur’an” Juz XI : 96, mengutip pendapat Ibnu Abbas tentang makna dari kata “khabata” adalah kembali kepada Allah, ketaatan, dan kekhusyukan.  Sementara Qatadah memberi makna “khabata” sebagai rendah hati atau ketundukan. Sedangkan al hasan memberi makna “khabata” sebagai kekhusyukan yang tertanam di hati disertai rasa takut kepada Allah.

Orang yang jiwa dan raganya takut kepada Allah disebut bersikap ikhbat. Kata kunci dari ikhbat adalah ketaatan, ketundukan, dan ketenangan dalam menjalankan perintah Allah. “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syari’atkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)” (Q. S. al Hajj : 34).

Kriteria orang-orang yang tunduk dan patuh kepada Allah dijelaskan dalam Q. S. al Hajj : 35 berikutnya, yakni pertama orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka. Dalam ayat 35 ini, gemetar disebut dengan istilah  “al wajal”. Secara bahasa “al wajal”  berarti rasa takut kepada Allah.

Adapun yang ditakutkan seseorang yang tunduk kepada Allah adalah rasa takut kehilangan hidayah; takut amal ibadahnya tidak diterima Allah; takut menyalahi aturan-Nya. Dari sikap “al Wajal” ini timbulah sikap kewaspadaan dan kehati-hatian dalam menjalani kehidupan. Dimanapun ia berada, ia selalu merasa dilihat dan diawasi Allah swt.

Kedua, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka. Orang-orang yang tunduk kepada Allah adalah orang yang tidak sombong ketika mendapat keberuntungan dan kebahagiaan, dan tidak putus asa dari rahmat Allah ketika berbagai musibah menimpanya. Ketika suatu musibah menimpa, seorang yang tunduk kepada Allah akan mengembalikan segalanya kepada Allah.

Sedapat mungkin ia akan menahan diri dari rasa sedih dan gelisah yang berlebihan; menahan cemas dan amarah. Ia juga berusaha menahan lidah dari keluh kesah dan mengadukannya kepada orang lain selain mengadukannya kepada Allah.

Sikap sabar selalu menghiasi segala aktivitas kehidupannya. Ia akan sabar menlaksanakan segala perintah Allah dan Rasul-Nya; sabar dalam menjauhi segala perbuatan yang dilarang Allah dan Rasul-Nya; dan sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ia juga akan senantiasa bersikap sabar ketika musibah menimpanya.

Ketiga, bagian ayat selanjutnya dari Q. S. al Hajj : 35 merupakan pembuktian dari sikap tunduk,  patuh kepada Allah dan sikap sabar, yakni melaksanakan ibadah shalat. Secara fisik, ibadah shalat merupakan ibadah yang ringan. Hitungan rakaatnya hanya 2-4 rakaat. Jika seseorang hanya melaksanakan ibadah shalat saja, dalam satu kali melaksanakan ibadah shalat tak akan menghabiskan waktu lama.

Namun demikian, secara psikologis ibadah shalat merupakan perbuatan yang berat. Buktinya, belum semua orang yang mengaku muslim mampu melaksanakannya. Mereka bukan tidak mengetahui akan adanya kewajiban ibadah shalat, namun lebih kepada kesadaran hati dan motivasi diri, serta kurangnya kesabaran diri mereka menghadapi rasa malas dalam melaksanakannya.

Keempat, bagian dari ayat berikutnya merupakan bukti ketundukan kepada Allah yang paling berat, yakni   menafkahkan sebagian dari apa yang telah Allah rezekikan kepada kita. Jika tanpa ada kesadaran, kesabaran, dan ketundukan kepada Allah, siapapun akan merasa berat untuk mengeluarkan sebagian hartanya. Jangankan mengeluarkan infaq dan sedekah yang hukumnya sunat, ibadah zakat yang wajib hukumnya akan dilewatkannya begitu saja.

Orang-orang yang di hatinya tak ada perasaan ketundukan kepada Allah, ia merasa memiliki segalanya. Di hatinya tak ada perasaan  keterlibatan Allah dalam kehidupannya. Kehidupan, kesuksesan, dan kepemilikan harta yang ada dalam genggamannya seolah-olah hasil keringatnya sendiri. Tidaklah mengherankan ketika Allah “meminta” sebagian dari hartanya untuk dikeluarkan sebagai infaq, sedekah, atau zakat, ia menahannya sekuat tenaga.

Tak ada balasan lain bagi orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah, bersikap sabar dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya selain ia akan mendapatkan kabar gembira dari Allah. Kabar gembira tersebut tiada lain adalah berupa ampunan dan curahan rahmat dari-Nya.  Puncak dari kabar gembira dari Allah untuk orang-orang yang tunduk patuh kepada-Nya serta senantiasa memelihara kesabaran adalah mereka akan menjadi  penghuni-penghuni surga; dan mereka kekal di dalamnya.”

Bisa jadi kita akan merasakan “penderitaan” ketika melaksanakan ketaatan kepada Allah. Namun yakinkanlah, Allah akan mengganti semua penderitaan tersebut dengan kebahagiaan, bukan hanya di akhirat, tapi Ia pun akan memberikannya selama kita hidup di dunia ini. Syaratnya kita benar-benar bersikap ikhbat, tunduk atas segala ketentuan-Nya. Berbahagialah apabila kita termasuk bagian dari kelompok al Mukhbitun.

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...