Aksesoris Ramadhan

Aksesoris Ramadhan
Ilustrasi.net

AKSESORIS menyambut Ramadhan mulai  ramai dan semarak. Berbagai poster mulai bermuculan baik di media cetak, media sosial, dan di tempat-tempat  perbelanjaan. Sejak bulan Rajab, sudah ada sebagian televisi yang menayangkan berbagai iklan produk makanan dan minuman dengan nuansa Ramadhan. Malahan ada iklan produk cat yang sudah menayangkan suasana lebaran dengan rumah yang dicat baru. Berbagai  pola baju yang diklaim Islami pun sudah mulai diiklankan, terutama di situs-situs belanja online.   

Pemerintah pun mulai sibuk. Selain kebijakan mudik yang tidak jadi diberlakukan,  jauh-jauh hari pemerintah juga sudah memperhitungkan persediaan dan kebutuhan pangan untuk Ramadhan dan hari Raya. Hanya saja, seperti Ramadhan tahun lalu, semarak aktifitas buka bersama, sahur on the street, dan berbagai aktifitas khas Ramadhan lainnya yang melibatkan kerumunan kayaknya akan tetap dibatasi bahkan dilarang. Hal ini masih berkenaan dengan kebijakan pemerintah sebagai upaya pencegahan penyebaran Pandemi Covid-19.

Itulah semaraknya berbagai aktifitas dalam menyambut Ramadhan di negeri kita. Kondisi ini mudah-mudahan dibarengi dengan berbagai azam atau tekad diri untuk benar-benar memperbaiki kualitas akhlak dan ibadah kita baik sebelum, ketika sedang melaksanakan ibadah shaum, dan yang paling utama terdapat perubahan akhlak dan ibadah kita  menjadi semakin baik pasca shaum Ramadhan. 

Namun perlu digarisbawahi, kebanyakan dari kita hanya semarak menyambut awal dan akhir Ramadhan saja. Hari-hari berikutnya pada saat melaksanakan ibadah shaum Ramadhan mulai banyak orang yang bertumbangan.  Jika diibaratkan,  banyak orang yang melaksanakan ibadah shaum Ramadhan seperti orang yang mengikuti lomba lari maraton seraya tidak memahami seluk beluk dan teknik lari maraton yang baik 

Ketika ada perlombaan lari maraton, banyak orang yang semangat mengikutinya. Tak sedikit peserta yang sengaja membeli berbagai aksesoris olah raga lari, mulai dari sepatu, kaos, dan aksesoris lainnya. Harapannya dengan memakai aksesoris tersebut, mereka akan semangat mengikuti lomba lari maraton sampai ke garis akhir. Namun sayang sekali, dari sekian banyak peserta hanya sedikit orang yang mengetahui dan memahami teknik berlari maraton. 

Bagi orang yang mengetahui seluk beluk dan memahami teknik lari maraton, ia akan mengatur strategi. Ia menyadari, lari maraton merupakan perlombaan lari jarak jauh.  Pernafasan dan tenaga harus benar-benar diatur sejak start. Ia tidak akan berlari cepat laksana pelari jarak pendek. Sementara orang yang tidak mengetahui dan memahami teknik lari maraton, ia akan segera berlari secepat mungkin laksana pelari jarak pendek. Namun sayang, baru beberapa kilometer berlari, ia tumbang di tengah perjalanan,  jangankan mendapatkan piala, sampai ke garis finish pun tidak tercapai. Aksesoris  olah raga lari maraton yang dikenakan tidak membantunya mencapai garis akhir.

Seperti itulah kondisi puasa Ramadhan kita pada umumnya. Banyak  kalangan dari kita yang tidak mengetahui hakikat dari ibadah shaum Ramadhan. Berbagai aksesoris Ramadhan seperti baju koko, jilbab yang indah, resep makanan sahur dan berbuka puasa serta berbagai aksesoris lainnya telah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum Ramadhan tiba. Namun sayang, semangat yang membara untuk menghidupkan Ramadhan hanya terjadi pada permulaannya saja.  

Pada awal Ramadhan, masjid-masjid begitu penuh sesak dengan orang-orang yang melaksanakan shalat tarawih dan shalat berjamaah lainnya. Lantunan tilawah Al-Qur’an terdengar hampir setiap saat. Orang-orang nampak shaleh dan shalehah yang disimbolkan dengan baju koko,  busana muslim, ringtone  lagu-lagu Islami dan aksesoris lainnya yang bernuansa religius. Namun sayang, kebiasaan baik tersebut tidak bertahan sampai akhir Ramadhan. Banyak orang yang tumbang di tengah perjalanan. 

Satu pekan setelah Ramadhan bejalan,  barisan shalat berjamaah tarawih mulai “maju”. Bukan maju kualitas dan kuantitas rakaatnya, tetapi shaf atau jajarannya yang semakin “maju” ke depan alias berkurang jumlah jamaahnya. Pada awal-awal Ramadhan, masjid penuh sesak dengan jamaah,  namun minggu-minggu berikutnya jamaah masjid semakin berkurang. 

Ramadhan yang suci merupakan saat yang tepat bagi kita untuk “berlari” dan  mendekatkan diri kepada Allah swt, siapa tahu Ramadhan yang kita laksanakan kali ini merupakan Ramadhan terakhir. Aturlah nafas ketika kita “berlari” kepada Allah agar sampai ke garis akhir, yakni meraih ampunan Allah. 

Salah satu cara “mengatur nafas dalam berlari” kepada Allah adalah istikamah, konsisten, dan kontinyu dalam melaksanakan ibadah. Rasulullah saw sendiri bersabda, amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilaksanakan secara konsisten dan kontinyu, meskipun sedikit.  Kita tidak boleh membiarkan Ramadhan berlalu begitu saja dan  membiarkan semangat ibadah kita tumbang di tengah perjalanan, dan ibadah puasa kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja.

“Apabila hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta, apabila ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Apabila hamba-Ku datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari.” (HR. Bukhari).

Sangatlah arif, apabila kita senantiasa membulatkan tekad untuk istikamah beribadah selama bulan Ramadhan ini, seraya berlindung kepada Allah agar kita dijauhkan dari sifat malas beribadah  kepada-Nya. Semoga kita mampu melaksanakan ibadah puasa kita dengan imanan wahtisaban, sehingga kita menjadi seorang hamba yang mendapat rahmat, rida, dan ampunan-Nya. 

Selamat menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Semoga Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan terbaik dalam kehidupan kita.

 

Penulis,  Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.   

Komentar

Loading...