Breaking News

Akibat Perbuatan Zalim

Akibat Perbuatan Zalim
Ilustrasi/Pinterest

DITEMANIN  embun pagi yang mulai turun, seorang nelayan mengayuh sampannya ke tengah lautan. Setelah hampir seharian mengarungi lautan, tak seekor ikan pun menyangkut di jaringnya.

Menjelang sore hari, seekor ikan besar menyangkut di  jaringnya. “Alhamdulillah! Aku mendapatkan rezeki untuk  bekal hari  ini.” Ucapnya penuh syukur.

Dengan segera ia mengayuh sampannya ke tepi pantai.  Belum juga ikan tersebut diturunkan dari sampan, sang penguasa pelabuhan merampas ikan dan sampannya tanpa alasan yang pasti.

“Tuan! Mengapa Anda merampas sampan dan ikan tangkapanku itu?” Tanya sang nelayan keheranan.

Dengan sombong sang penguasa pelabuhan menjawab, ”Hai nelayan miskin! Perlu kamu ketahui, pelabuhan dan segala fasilitas yang ada di sini akulah yang membangun dan memeliharanya. Orang lain tak pernah ikut memikirkannya, termasuk kamu.”

Sang nelayan tak bisa berbuat apa-apa. Ia pulang dengan tangan hampa. Hatinya menjerit. “Ya Allah! Hari ini hamba-Mu yang lemah ini dizalimi sang penguasa sombong. Aku yakin sekali Engkau Mahakuasa. Tunjukkanlah kekuasaan-Mu kepada hamba-Mu yang lemah ini!”

Do’anya terkabul. Tak diduga sebelumnya, ikan yang sedang dipegang sang penguasa pelabuhan itu masih hidup dan menggigit jarinya. Rupanya ikan yang ditangkap sang nelayan tersebut berupa ikan beracun. Gigitannya berbisa.

Dalam sekejap, bisa dari gigitan ikan tersebut menjalar ke seluruh lengan sang penguasa pelabuhan. Lukanya cukup parah. Dengan segera ia dilarikan ke rumah seorang tabib. Setelah diperiksa tabib, tangan  si penguasa pelabuhan harus diamputasi. Jika tidak, racunnya akan menjalar ke seluruh bagian tubuh.

Singkat cerita tangannya diamputasi. Ia sangat menyesal, demi seekor ikan, ia harus kehilangan salah satu tangannya. Ia pun menyesali atas perbuatan zalim yang telah dilakukannya. Dengan berat hati dan penuh rasa malu, sang penguasa pelabuhan meminta maaf kepada sang nelayan. Ia mengakui akan tindakan zalim,  kesombongan,  dan kesalahannya.

Dengan rela dan terbuka, sang nelayan yang dizalimi  memaafkannya. Namun, tangan si penguasa pelabuhan  tetap tak kembali lagi. Setiap orang yang  melihatnya senantiasa berkata, “Itulah akibat perbuatan zalim dan bertindak sewenang-wenang.”

Pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah tersebut adalah perbuatan zalim itu  pada hakikatnya perbuatan menganiaya diri sendiri. Ketika kita menzalimi orang lain, suatu saat kezaliman yang lebih besar akan menimpa diri kita. Tidak ada kemaslahatan sedikitpun dalam perbuatan zalim, selain dosa dan kemudaratan.

Imam al Ghazali mengatakan, terdapat lima perbuatan yang dikategorikan zalim, yaitu: penguasa yang mengambil hak rakyatnya (korupsi); orang kuat yang menindas orang  lemah; orang tua yang tidak menyuruh anggota keluarganya untuk beribadah kepada Allah; majikan yang  tidak membayar gaji pegawainya sesuai dengan kesepakatan;  dan suami yang mengkhianati mahar kepada istrinya.

Rasulullah saw menggambarkan, pada akhir zaman akan penuh dengan gejolak dan kemorosotan moral. Kembali seperti zaman jahiliyah. Kezaliman merajalela dalam setiap aspek kehidupan. Para penguasa pada akhir zaman yang idealnya harus menjadi pengayom umat dan rakyat, kenyataannya malah sebaliknya. Para penguasa menjadi “makhluk rakus” yang selalu memakan hak-hak rakyat. Keadilan berganti dengan kezaliman.

“Kelak pada akhir zaman, akan ada para penguasa yang menguasai rakyat dengan berbuat zalim dan berbuat bohong kepada rakyatnya. Maka barangsiapa ikut kepada golongan mereka, membenarkan kebohongan dan menolong kezalimannya, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukanlah dari golongannya. Barangsiapa yang tidak mengikuti golongan mereka, tidak membantu kezalimannya, maka ia termasuk golonganku dan aku menjadi golongannya.”(H.R. Ahmad, Abu Ya’la, dan Ibnu Hibban).

Baik al Qur’an maupun al Hadits  mewanti-wanti kepada para penguasa agar berbuat adil dan menjauhi perbuatan zalim. Sebab dengan kekuasaan yang diembannya, jika tidak didasari keimanan dan akhlak mulia, para penguasa sangat rentan berbuat zalim. Islam mengajarkan kepada para penguasa agar mampu memandang jabatan yang diembannya sebagai amanat yang harus dipertanggungjawabkannya di hadapan Allah swt.

Keselamatannya di hadapan Allah swt sangat tergantung kepada kejujuran dan keadilannya dalam memimpin. “Tidak ada pemimpin yang memimpin atas sepuluh orang, kecuali pada hari kiamat nanti ia akan datang dengan tangan terikat, hingga dibuka ikatannya itu oleh  keadilannya atau dijerumuskan ke dalam neraka akibat kecurangannya.” (H.R. Al-Baihaqi).***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...