Air PDAM Tirta Daroy Sering Mati, Warga Banda Aceh Kelimpungan

Air PDAM Tirta Daroy Sering Mati, Warga Banda Aceh Kelimpungan
BAK KOSONG - Bak penampungan di rumah Dedi Kemal kosong, anaknya mau cuci muka saja susah karena hanya tinggal dua gayung itu pun sudah kotor. Dari kemarin sampai berita ini ditayang air PDAM masih mati. Foto/Dedi Kemal

CAKRADUNIA.CO, Banda Aceh – Sudah dua hari air bersih dari PDAM Tirta Daroy Banda Aceh mati, warga kelimpungan karena air sebagai kebutuhan pokok warga setiap waktu tidak menetes. Akibat, sering mati air warga sulit mencuci, masak, mengambil wudhuk dan lain-lain.

Dedi Kemal (56) warga Lambhuk, Banda Aceh kepada media ini, Selasa (17/11) mengatakan manajemen pengelolaan air PDAM Tirta Daroy tidak benar. Dia tahu dalam dua bulan terakhir ini ada pemasangan pipa di sejumlah titik di dalam kota Banda Aceh. Namun, suplay air bersih jangan sampai mati 24 jam bahkan bisa sampai 40 jam.

“Saya tahu, PDAM sedang memasang jaringan pipa air. Tapi, jangan beginilah cara kerjanya air mati sampai dua hari. Keluarga saya susah, mau cuci tak ada air, mau masak sulit sampai-sampai air wudhuk susah, karena air dalam bak tampungan hanya tinggal dua gayung itupun sudah kotor. Bagaimana ini,”katanya kesal.

Menurutnya janji walikota bahwa air bersih tuntas akhir tahun 2019 ketika awal-awal menjabat sebagai walikota hingga kini belum terwujud. Sedangkan jabatanya tidak sampai dua tahun lagi, namun jaringan PDAM Tirta Daroy belum selesai juga.

“Jadi sampai kapan Pak Wali bereskan jaringan PDAM Tirta Daroy. Air ini kebutuhan pokok, warga sangat susah bila air tidak ada. Karena selama dua bulan terakhir ini, jaringan air sering hidup-mati terkadang tanpa informasi, tiba-tiba air mati. Bagaimana ini Pak Wali Aminullah,”tanyanya berulang-ulang penasaran.

Dedi merasa dirugikan, karena dia memakai air bayar bukan gratis. Giliran terlambat bayar langsung dipotong, tapi giliran air mati apa kompensasinya.

“Jangan giliran tagihan air bila telak langsung potong, tapi, kalau air sering hidup mati apa ada konpensasinya. Harus adillah, jangan rakyat dizalimin terus,”tutupnya.

Hal yang sama juga dikeluhkan warga Kecamatan Ule kareng, Ibu Wati (55) selama air hidup mati juga susah karena persiapan kebutuhan dapurnya terganggu, sehingga dia sering terlambat membuat masakan untuk keluargannya.

“Maunya, PDAM itu mematikan air 10 jam lalu menghidupkan lagi barang dua jam. Janganlah mati sampai dua hari seperti ini, susah kami mau masak, cuci, ambil wudhuk dan lain-lain,”tutur ibu ini minta walikota peduli keluhan warganya.[df]    

Komentar

Loading...