Agama Mengajarkan Bersyukur

Agama Mengajarkan Bersyukur
Ilustrasi.net

NICK KYRGIOS, 25 tahun, merupakan seorang petenis profesional asal Australia. Secara financial, ia seorang yang kaya raya. Dalam usia yang masih muda, ia sudah mampu mengumpulkan pundi-pundi uang yang jumlahnya sangat menggiurkan bagi siapapun yang mendengarnya. Milyaran rupiah telah ia kumpulkan dari profesinya sebagai atlet tenis. 

Tak dinyana, dibalik kesuksesan, kepopuleran, dan kekayaannya, jiwa sang petenis muda ini tertekan. Ia menderita depresi, dan  merasa hidupnya sendiri,  bagaikan hidup di tempat gelap dan sepi.  Meskipun ia sebagai orang terkenal, ia merasakan tak satupun yang benar-benar mengenalnya. ketika sedang tour tenis di Sianghai, ia pernah tak mau melanjutkan hidupnya. Ia tak percaya kepada khalayak, mereka hanya menginginkannya bermain tenis, tak lebih dari itu.

Ia tersadar dengan dirinya, kemudian sejak 2018 ia rutin mendatangi psikolog. Disamping berobat, hampir dua tahun ia berjuang keras  meyakinkan dirinya mampu melawan depresi, bisa sembuh,  dan bisa hidup normal seperti dahulu sebelum meraih kesuksesan. Pada November 2020 ini, ia sudah mulai hidup tenang. Rencananya pada Januari 2021 ia akan kembali mengikuti turnamen tenis Australian Open.

Satu catatan dari perjalanan sang petenis ini adalah ia bisa hidup tenang selain bantuan psikolog, juga berkat ia hidup berkumpul dengan kedua orang tuanya di Canberra. Ia merasa senang bisa berkumpul, bercengkrama dengan keluarganya.

“Dulu, selama saya mengikuti tour tenis, saya harus meninggalkan rumah dan tidak bertemu dengan keluarga sampai tujuh bulan lamanya. Tahun ini, saya ingin memanfaatkan kondisi pandemi Covid-19 untuk berkumpul dengan keluarga,” Ungkap Kyrgios seperti dilansir Sydney Sunday Telegraph, sebuah media di Australia.

Selain intens berkumpul, menjalin silaturahmi dengan keluarganya, ia pun kini makin intens melakukan kegiatan sosial seperti bagi-bagi sembako kepada warga yang membutuhkan di tengah pandemi Covid-19.

Lain lagi cerita, beberapa bulan lalu, sebuah stasiun televisi swasta menayangkan kisah Pak Sucipto, pria berusia 70-an, pedagang siomay keliling di bilangan pinggiran Jakarta.  Di usia senjanya, ia masih harus berkeliling mendorong roda, menjajakan siomay  buatan istrinya. Penghasilannya, tak seberapa. Laba dari berjualannya berkisar Rp. 10.000 – Rp. 20.000 sehari. Uang yang ia bawa ke rumah hanya cukup untuk makan sehari dengan lauk sederhana, terkadang ceplok telur, terkadang pula hanya makan berlaukan mie instan.

Baik Pak Sucipto maupun istrinya selalu bersyukur dengan rezeki yang Allah berikan. Ia tak mengeluh dengan penderitaan dan sulitnya menghadapi kehidupan. Ibadah pun tak ia tinggalkan meskipun badannya lelah setelah dipakai berjalan beberapa kilometer sambil mendorong roda.

Ia pun selalu menjaga hubungan baik dengan keluarga dan tetangganya. Di tengah kesempitan hidup dan minimnya penghasilan yang ia peroleh, ia masih berbagi dengan tetangganya. Tak jarang tetangganya memperoleh suguhan siomay buatannya secara gratis.

Ia masih bisa tersenyum tulus meskipun berbagai kesempitan hidup dari hari ke hari semakin menghimpitnya. Namun ia selalu yakin, kehidupan akan senantiasa berubah, dan Allah telah menentukan ukuran rezeki bagi setiap hamba-Nya. Kewajiban hamba hanya berikhtiar, sabar dalam mencarinya, dan mensyukuri terhadap setiap hasil yang ia peroleh.

Kita bisa menarik pelajaran dari kedua kisah tersebut, bersyukur atas segala curahan nikmat merupakan kunci utama untuk memperoleh ketenangan hidup. Ketika kita kurang bersyukur atas segala pemberian nikmat,  yang akan kita dapat hanyalah perasaan berkurang belaka. Putus asa akan menyelimuti diri manakala cita-cita atau target yang diinginkan tidak tercapai.

Sebaliknya jika kita menerima apapun yang menjadi bagian dari peran kehidupan kita, ketenangan, kelapangan hidup akan kita peroleh. Depresi dan stres akan enggan mendekati kita. Setidaknya inilah yang telah dialami kedua orang dalam kisah ini. Selain menerima kehidupan apa  adanya, menikmati, mensyukuri, menjalin persaudaraan, bersilaturahmi, dan mau berbagi dengan orang lain dapat menjadikan diri seseorang menjadi lebih sehat, lebih tenang, dan lebih bahagia dalam menjalani kehidupan.

Nick Kyrgios maupun Pak Sucipto telah membuktikannya. Mereka berdua telah benar-benar merasakan betapa bahagia dan tenangnya ketika kehidupan mereka disertai dengan kesabaran, persaudaraan, dan mau saling berbagi. Kehidupan semakin bermakna bagi dirinya dan sesama.

Nick Kyrgios semakin dapat menikmati hartanya yang berlimpah, sementara pak Sucipto meskipun hidup dalam kekurangan, ia tetap dapat hidup bahagia, jiwa dan raganya sehat, menerima apapun bagian dari kehidupan yang telah diberikan-Nya.

James Arthur Ray (2006 : 131 dan 151) dalam karyanya, “The Science of Success” menyimpulkan,  baik dalam memberi maupun bersyukur berlaku hukum layaknya senjata bumerang. Apapun yang kita berikan akan kembali kepada diri kita. Winston Churchil mengatakan, “Kita menjalani kehidupan dengan apa yang kita peroleh, dan kita membuat kehidupan dengan apa yang kita berikan.”

Sementara bersyukur, dari sudut pandang apapun merupakan perbuaatan bijak dan bajik. Plato, seorang filosof Yunani mengatakan, “Ketika Anda merasa berterima kasih, Anda menjadi sangat baik, dan akhirnya akan menarik hal-hal yang sangat baik.”

Marcus Tullius Cicero, yang juga seorang filosof Yunani mengatakan, “Tindakan bersyukur (berterima kasih) adalah sumber kebajikan.”

Kita sebagai seorang muslim harus lebih yakin, bersyukur selain merupakan perbuatan yang tergolong ibadah, perbuatan ini selain akan mengikat nikmat yang telah ada pada kita, juga akan memikat datangnya nikmat yang lebih baik, yang belum kita miliki. “Jika kalian bersyukur, Aku akan menambah nikmat-Ku kepada kalian. Namun jika kalian mengingkarinya (tak mensyukuri atas nikmat dari-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” ( Q. S. Ibrahim : 7 ).

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.     

Komentar

Loading...