Agama Itu Ketundukan

Agama Itu Ketundukan
Musibah, pesan ketundukan dari Allah. Ilustrasi.Ist

SECARA bahasa  agama berasal dari dua kata a dan gama. A berarti “tidak”, gama berarti “kacau”. Agama berarti tidak kacau.  Secara istilah, agama berarti peraturan yang mengikat kehidupan manusia agar dapat menjalani kehidupan di dunia dalam ketertiban dan keteraturan. 

Dilihat dari pendekatan bahasa lainnya, konon kata “agama” sejalan dengan kata “aqaama” (bahasa Arab). Dalam dialek bahasa Arab Hadhramaut Selatan di jazirah Arab, “aqaama” diucapkan “agama” yang berarti menetap. Beragama Islam berarti menetap di dalam Islam (M. Quraish Shihab, Menabur Pesan Ilahi, 2006 : 21).

Kata menetap berarti selamanya. Karenanya orang beragama Islam adalah orang yang tetap dan terus menerus melaksanakan tuntunan ajaran Islam. Jika seseorang hanya sekali-kali melaksanakan tuntunan Islam, hakikatnya orang tersebut belum benar-benar beragama Islam.

“Din” merupakan istilah bahasa Arab lainnya untuk agama. Kata “din”  yang terdiri dari huruf “dal, ya, dan nun”  menarik untuk dikaji. Terdapat dua bacaan tulisan bahasa Arab yang terdiri dari huruf “dal, ya, dan nun”. Jika tanpa syakal (baris), rangkaian tiga huruf ini bisa dibaca “dainun” yang berarti hutang, dan bisa dibaca “dinun” yang berarti balasan atau kepatuhan.

Hal yang menarik dari rangkaian tiga huruf tersebut, baik dibaca “dainun” maupun “dinun” adalah terdapatnya hubungan antara dua pihak yang berbeda kedudukanya. Satu pihak lebih tinggi kedudukannya daripada pihak lainnya. Dalam hal “dainun” (utang), pihak yang mengutangkan memiliki kedudukan lebih tinggi daripada pihak yang berutang. Pihak yang mengutangkan memiliki kelebihan uang, sedangkan pihak yang berutang memiliki kekurangan uang.

Demikian pula dalam hal “dinun” (agama). Allah memiliki kedudukan yang Mahatinggi daripada hamba yang memeluk agama-Nya. Hamba atau manusia berada di tempat yang rendah.

Berdasarkan pengertian agama yang telah disebutkan, idealnya orang yang telah beragama adalah orang yang taat dan tunduk terhadap peraturan, dalam hal ini peraturan yang telah ditentukan Allah. Seorang muslim, idealnya tunduk akan peraturan yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan.

Bagi seorang muslim, tak ada jalan hidup utama yang ideal selain mengikuti sumber ajaran agamanya, yakni al Qur’an dan tuntunan Rasulullah saw.  Satu keyakinan yang harus ditanamkan di hati kita, kemajuan akan diperoleh manakala kita mengikuti kedua sumber ajaran Islam tersebut.

Ketaatan mengikuti pedoman hidup yang telah digariskan dalam ajaran Islam mesti diberlakukan dalam seluruh aspek kehidupan. Ketaatan melaksanakan ritual-spiritual harus mewarnai setiap gerak langkah dalam kehidupan sosial. Keajegan kita sebagai pemeluk suatu agama, tak terkecuali muslim adalah manakala kita telah mampu mewarnai kehidupan sosialnya dengan nilai-nilai ritual-spiritual yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan.

Bahasa al Qur’an menyebut keajegan dalam mengamalkan ajaran Islam  dengan istilah istiqamah (konsistensi). Seseorang akan mendapatkan kebaikan maksimal dari ajaran Islam  manakala ia konsisten dalam mengamalkan setiap aturan yang telah ditetapkan. Ia pun akan menjadi panutan dan teladan bagi orang lain karena konsisten dalam melaksanakan setiap perintah.

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka para malaikat akan turun kepada mereka (sambil berkata), ‘janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu’ “ (Q. S. 41 : 30).

Sudah jelas jaminan bagi kita  manakala konsisten dalam melaksanakan ajaran Islam, ketenangan, dan kebahagiaan akan kita  peroleh. Puncak dari kebahagiaan berupa surga akan kita peroleh kelak di akhirat.

Jauh sebelum memasuki kehidupan akhirat, Allah telah menjamin kehidupan yang tenang bagi orang-orang yang taat menjalankan perintah-Nya. Sudah banyak penelitian yang membuktikan secara ilmiah, orang-orang yang tunduk patuh dalam menjalankan perintah agama dan secara konsisten mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari,  kehidupan mereka nampak lebih sehat dan penuh ketenangan.

Rudolf Otto, seorang teolog Jerman,   seperti dikutip Taufik Pasiak dalam bukunya “Tuhan dalam Otak Manusia” (2012 : 202) mengatakan, ‘Orang-orang yang mempraktikkan kehidupan beragama dengan benar, cenderung hidup lebih lama, lebih rendah menderita penyakit stroke, rendah penyakit jantung, dan memiliki fungsi sistem kekebalan yang lebih baik’.

Saya tidak mengetahui, pemeluk agama apa saja yang menjadi responden dalam penelitian yang Rudolf Otto lakukan. Satu hal  yang jelas adalah  apa yang telah ia simpulkan, al Qur’an telah menggariskannya jauh sebelum sang teolog ini melakukan penelitian. “...hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Q. S. ar Ra’d : 28).

Kemajuan, kesuksesan,  baik pribadi, masyarakat, maupun bangsa hanya akan lahir dari pribadi dan masyarakat yang memiliki ketenangan dan ketenteraman secara lahiriah dan batiniah. Ketenangan secara lahiriah diperoleh dengan adanya jaminan keamanan, sedangkan ketenangan batiniah diperoleh  melalui ketaatan menjalankan ajaran agama.

Namun demikian, kita lebih sering tidak konsisten dalam melaksanakan ajaran Islam. Meminjam pendapat M. Quraish Shihab seperti telah dikutip pada awal tulisan, kita belum benar-benar “aqaama”  alias menetap dalam ajaran Islam. Hati kita belum tunduk terhadap ajarannya.

Kita baru mampu menjadikan kitab suci sebagai bacaan,  belum sepenuhnya menjadikannya sebagai pedoman hidup. Inilah yang menyebabkan kehidupan kita seolah-olah tidak beragama, sebab kehidupan kita kacau, tidak sejalan dengan arti agama itu sendiri yakni tidak kacau.

Kesalahannya bukan pada ajaran Islam, namun kesalahan kita sebagai pemeluknya yang belum mau tunduk terhadap ajarannya. Padahal ketundukan terhadap ajaran agama Islam akan melahirkan pribadi-pribadi mulia yang bukan saja menguntungkan bagi diri sendiri, namun juga akan berpengaruh terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya.

Sampai kapan kita tidak mau tunduk terhadap keislaman kita? Sampai kapan kita hanya menjadikan kitab suci kita hanya sebagai kitab yang indah dalam bacaan namun tak diimplementasikan dalam kehidupan? Sampai kapan kita hanya akan menjadikan kitab suci sebagai pendorong kekuatan spiritual, namun tak ada bekasnya dalam menjalani kehidupan sosial?

Kita patut tersindir dengan  Annemarie Schimmel, seorang orientalis  asal Jerman,  seorang penulis tentang Islam dan sufisme, “...bahkan sebuah kitab suci (al Qur’an) yang digunakan sebagai objek pemujaan tanpa mengingat kandungan ruhaniyahnya dapat berubah hanya menjadi sebuah jimat.”

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...