Agama Islam itu Kedisiplinan

Agama Islam itu Kedisiplinan
Ilustrasi.net

IDEALNYA umat Islam itu terbiasa hidup disiplin dalam segala aspek kehidupan. Betapa tidak, seluruh ibadah yang diwajibkan dalam Islam mengajarkan kedisiplinan dan ketertiban. Disiplin dalam menggunakan waktu dan disiplin dalam tindakan serta ucapan. Disamping itu, ibadah dalam ajaran Islam mengajarkan pula ketertiban.

Shalat wajib, shaum, haji, dan zakat merupakan ibadah-ibadah yang  dibatasi dengan waktu. Melaksanakan shalat wajib, shaum, dan haji harus dilaksanakan  tepat pada waktunya. Demikian pula dengan ibadah zakat, selain haul (sudah mencapai hitungan satu tahun), juga hitungannya harus tepat. Terlebih-lebih dengan zakat fitrah, hitungan dan waktunya harus tepat, 2,5 kg beras dan  dikeluarkan sebelum melaksanakan shalat Idul Fithri.

Ibadah qurban pun tak jauh berbeda dengan ibadah lainnya, ada pembatasan waktu dalam pelaksanaannya, yakni dari tanggal 10 – 13 Dzulhijjah. Jika menyembelih hewan qurbannya tepat tanggal 10 Dzulhijjah, penyembelihan harus dilaksanakan usai melaksanakan shalat Idul Adha. Demikian pula dengan pelaksanaan ibadah shaum, baik shaum sunat maupun shaum wajib sama-sama dibatasi waktu, mulai terbit fajar sampai terbenam matahari. Jika tidak ada halangan, waktu pelaksanaan ibadah shaum tak boleh ditambah, juga tak boleh dikurangi.

Intinya,   dalam ajaran Islam  waktu sangat membatasi dan menentukan kevalidan dalam pelaksanaan ibadah. Selain waktu, ketertiban juga sangat ditekankan dalam pelaksanaan ibadah. Dalam semua ibadah,  baik yang hukumnya wajib maupun sunat, didalamnya ada tuntutan untuk tertib dan berurutan dalam melaksanakannya.

Melangkah lebih jauh, dalam setiap ibadah yang dilaksanakan harus terkandung niat, demi pengabdian kepada Allah, lillahi ta’ala. Jika tidak ada unsur lillahi ta’ala, ibadah kita hanya bernilai sia-sia. Bernilai baik di hadapan manusia, nihil makna dan nihil pahala di hadapan Allah.

Melangkah lebih jauh lagi, semua ibadah yang dilaksanakan harus bermuara kepada berubahnya perilaku kita menjadi lebih baik. Ibadah yang kita lakukan harus mampu mengikis sifat iri dan egois, menghapus sikap hasud, mampu mengendalikan diri, dan hidup saling membantu dan saling menghargai. Intinya, semua ibadah yang kita lakukan harus bermuara kepada kedisiplinan dalam menjalani aktivitas keseharian.

Dari sudut pandang filsafat, terdapat tiga kedisiplinan yang harus kita lakoni dalam meniti setiap tangga kehidupan ini. Pertama,  dicipline of desire. Disiplin dalam mengendalikan keinginan, ambisi, dan nafsu. Diakui atau tidak, seperti telah penulis kemukakan dalam tulisan-tulisan sebelumnya, banyak orang yang menderita hidupnya, karena mereka tidak bisa mengendalikan keinginannnya. Hidupnya mengikuti hasrat atau nafsunya. Banyak orang yang menjadi budak keinginannya, melupakan moral baik dan berani melakukan perbuatan  melawan hukum demi memenuhi keinginannya. 

Jika benar-benar dihayati, kemudian diimplementasikan dalam kehidupan, ibadah dalam Islam mengajarkan disiplin mengendalikan keinginan. Ibadah shaum mengajarkan kita untuk disiplin mengendalikan keinginan untuk terus mengkonsumsi makanan, ibadah haji mengajarkan kesederhanaan dalam bersandang yang disimbolkan dengan kain ihram yang sangat sederhana. Demikian pula, ibadah shalat mengajarkan disiplin meredam keinginan. Selama melaksanakan ibadah shalat kita dituntut untuk melepaskan segala bayangan dan keinginan-keinginan duniawi 

Niat lillahi ta’ala yang selalu menjadi dasar utama dalam setiap ibadah yang kita laksanakan merupakan pelatihan disiplin yang berharga. Betapa tidak, niat lillahi ta’ala melatih mengendalikan keinginan-keinginan lain yang selalu bergejolak dalam jiwa. Keinginan populer, dipuji,  dan dipuja, harus lebur dan digantikan dengan kepasrahan akan segala sifat ke-Maha-an Allah. Dialah yang Mahabesar, Mahaagung, Maha Terpuji, dan berbagai sifat Maha lainnya.

Kedua, dicipline of action. Disiplin dalam tindakan dan perilaku. Perbuatan baik merupakan nilai universal yang disukai semua orang. Tak peduli apapun agama dan sukunya, semua orang menyukai perbuatan baik dan menyukai moral yang baik.

Pada periode  awal dakwah Rasulullah saw, banyak orang Arab jahiliyah yang menolak dakwah Rasulullah saw dan kehadiran Islam. Namun  mereka sangat menyukai perilaku baik dan kejujuran Rasulullah saw. Mereka sering menitipkan barang dan uang kepada Rasulullah saw, sebab mereka percaya barang atau uang yang dititipkan  kepadanya tak akan berkurang apalagi hilang. Hal ini berbeda jika dititipkan kepada orang  lain. Ketika Rasulullah saw akan hijrah ke Madinah, ia sibuk mengembalikan barang dan uang titipan kepada para pemiliknya. 

Ibadah yang kita lakukan, ibadah shalat misalnya, muara akhirnya adalah lahirnya kedisiplinan kita dalam perilaku dan tindakan. Ucapan kita harus baik sebagaimana ucapan ketika kita melaksanakan ibadah shalat. Tak ada kata-kata jelek yang keluar dari lisan selama kita melaksanakan ibadah shalat. Ketika imam melakukan kekeliruan dalam shalat berjamaah, kita pun  menegurnya dengan cara yang baik. Teguran kepada imam kita sampaikan dengan mengucapkan tasbih maksimal tiga kali.

Jika kedisiplinan dalam  ucapan, perilaku, dan tindakan selama melaksanakan  ibadah shalat benar-benar kita implementasikan dalam aktivitas keseharian,  sudah bisa dipastikan kehidupan ini akan penuh kedamaian. Amar ma’ruf  dan nahyi munkar  yang menjadi tujuan utama dari ibadah shalat akan disampaikan dengan cara yang bijak dan bajik.

Ketiga, discipline of judgement. Disiplin mengendalikan opini atau disiplin dalam memberikan vonis  terhadap orang lain. Tingkat sederhana dari disiplin ini adalah kita tidak memberikan komentar atau pendapat terhadap suatu peristiwa atau perilaku seseorang  di luar pengetahuan kita tentang peristiwa atau orang tersebut.

Diakui atau tidak, tangan dan lisan kita selalu “gatal” jika tidak mengomentari  suatu peristiwa atau perilaku seseorang meskipun kita tidak memahami seluk beluk peristiwanya atau tidak mengetahui seluk beluk tindakan yang dilakukan seseorang. Sikap sok tahu, sok suci, sok benar sendiri, ghibah, berburuk sangka merupakan perilaku-perilaku yang sangat dicela dalam al Qur’an. Kita diwajibkan menjauhi perbuatan-perbuatan tersebut.

“Dan janganlah kalian mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui.  Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggung-jawabannya” (Q. S. al Isra : 36).

Sungguh akan indah kehidupan kita, jika ibadah-ibadah yang kita laksanakan melahirkan kedisiplinan-kedisiplinan yang telah dipaparkan. Kemuliaan Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin akan dirasakan seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini.***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat. 

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...