50 Petani Bener Meriah Siap Tanam Porang Program Dewan UKM Aceh

50 Petani Bener Meriah Siap Tanam Porang Program Dewan UKM Aceh
Pengurus Dewan UKM Komwil Aceh, Pengurus Dwan UKM Komda Bener Meriah, petani dan keuchik usai pelatihan foto bersama dan mengikrarkan siap menjadi petani Porang, Sabtu (28/11).Foto/cakradunia.co/helmi hass

CAKRADUNIA.CO, Bener Meriah - Sebanyak 50-an petani Bener Meriah siap menanam tanaman Porang sebagaimana yang diprogram oleh Dewan Usaha Kecil dan Menegah (UKM) Aceh yang akan dimulai awal tahun 2021.

Kesanggupan itu disampaikan petani Bener Meriah ketika ikut pelatihan dan praktek pembuatan kompos organik yang dilaksanakan oleh Dewan UKM Aceh di aula Desa Bantalah, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Sabtu (28/11/20).

Dalam pelatihan dan praktek tersebut petani yang hadir selain dari Desa Bantalah juga ada petani dari Desa Meria Gajah Puteh, Redelong, Weh Pesam, dan sejumlah desa lain di Kabupaten Bener Meriah. Untuk itu, Dewan UKM Aceh menghadirkan nara sumber kompos organik Achyar Ibrahim dari Banda Aceh.

Ketua Dewan UKM Aceh, T Nurmiadi Boy ketika membuka pelatihan mengharapkan petani di Bener Meriah segera merubah pola tanam dengan menggunakan pupuk organik untuk meningkatkan kualitas hasil, kesehatan dan daya tahan tanaman, karena hasil produksi Porang Aceh akan masuk pasar dunia yang membutuhkan Porang yang menggunakan pupuk organik.

"Dewan UKM Aceh akan menanam Porang di Aceh menggunakan pupuk organik. Oleh karena itu, semua petani Porang harus mampu memproduksi sendiri kompos organik yang bahannya sangat banyak disekitar kita. Maka, hari ini Dewan UKM Aceh membawa ahli kompos organik untuk melatih petani di Bener Meriah,"katanya.

Petani Bener Meriah saat Praktek Kompos Organik. Foto/cakradunia.co/helmi hass

Bila tidak ada halangan, sebut Pak Boy, begitu nama akrabnya, di kabupaten Bener Meriah akan di tanam sekitar 3.000 ha tanaman Porang diatas lahan petani yang dikelola dan dimanajeri oleh Dewan UKM Aceh. Kepada pemilik lahan dan petani akan mendapatkan perghasilan sesuai dengan luas lahan dan pekerjaan yang dilakukakannya.

Dalam menanam Porang, Pak Boy mewanti-wanti jangan mengganggu tanaman yang sudah ada, karena pohon-pohon besar itu akan menjadi pelindung bagi tanaman Porang yang masuk dalam jenis palawija.

"Bapak-bapak jangan tebang pohon yang sudah ada, program Porang ini untuk menyelematkan alam dan lingkungan. Jadi dibersihkan saja yang rapat-rapat pohonyanya dan lain lain jangan diganggu biarkan tumbuh seperti biasa,"katanya mengingatkan. Karena ada petani yang sedang menyiapkan lahannya langsung menebang pohon besar yang sudah ada, karena ketidaktahuan petani, kemudian setelah tahu dia menyesal.

Dewan UKM Aceh merencanakan akan menaman tanaman Porang sekitar 24.000 ha di 19 kabupaten/kota di Aceh. Program ini akan dilakukan bertahap dan kontinyue, sehingga produksinya bisa ditargetnya setiap tahunnya bisa memproduksi berapa banyak, sehingga bisa menjawab kebutuhan pasar.

Sementara ahli kompos organik, Achyar Ibrahim mengatakan kompos organik sangat penting untuk memperbaiki tanah dan memberikan nutrisi kepada tanaman. Setelah memperbaiki lalu meresap dalam tanah. Kondisi ini sangat penting, karena bisa bertahap empat sampai lima hari dan mudah diserap oleh tanaman.

Achyar Ibrahim sedang mencampurkan gula dengan EM4 sebagai bahan untuk pembuatan pupuk organik ketika melakukkan praktek kepada petani di Bener Meriah. Foto/cakradunia.co/helmi hass

Selain itu kompos, katanya, organik dapat menahan erosi dari gerusan air karena hujan dan dapat meningkatkan biologis tanah untuk mikro organisme serta tidak menimbulkan masalah bagi lingkungan.

"Pupuk organik sangat beda dengan pupuk petisida. Pupuk pertisida bisa merusak lingkungan karena kandungan racunya, dilepaskan ke sungai ikan bisa mati dan struktur tanah mati, sehingga tidak bisa digunakan sebagaimana fungsinya. Jadi, mulai sekarang kita harus kembali ke pupuk organik untuk menyelamatkan bumi dan generasi muda Aceh ke depan, segera tinggalkan pupuk beracun itu,"kata mantan pejabat di PU Pengairan Aceh ini mengingatkan.

Bahan-bahan untuk pembuatan kompos organik, tambahnya sangat mudah diantaranya; jerami, semak belukar, ilalang, batang pisang, enceng gondok, sampah rumah tangga (air cuci beras dll), air kelapa, sekam padi, serbu gergaji, sekam kopi, kotoran hewan, MOL dan lai-lain. Kemudian dibuat semacam tempat penampungan, boleh dibuat dari kayu atau digali lubang atau di buat beton, tergantung keinginan dan kemampuan.

Untuk bahannya tidak mesti ada semua, tiga macam sudah cukup. Namun, bila banyak pupuk komposnya lebih bagus dan hasil produksinya juga lebih baik.

Cara buatnya semua bahan tadi dimasukkan kedalam tempat penampungan, bila pohon pisang dipotong-potong dicampur dengan bahan lain, lalu di masukan EM4 yang telah dicampur sedikit gula, kemudian ditutup dengan plastik dan diperam selama tiga pekan sudah bisa digunakan. Untuk membuang panas boleh dibuat pipa ditegakkan di atas tumpukkan bahan agar panasnya bisa keluar.

"Jadi, sampah rumah tangga jangan dibuang lagi, tapi diolah secara sederhana dijadikan pupuk organik, sehingga tanaman hias di rumah sehat dan ramah lingkungan,"kata Achyar Ibrahim ketika melakukan praktek pembuatan pupuk organik yang diikuti antusias petani Bener Meriah.

Dalam pelatihan dan praktek kompos organik itu, selain pengurus Dewan UKM Aceh juga hadir Ketua Dewan UKM Bener Meriah, Syahdan, Ketua UKM Aceh Timur, Abi Syukran dan pengurus lainnya serta sejumlah kepala desa.[df]

Komentar

Loading...