Respon Kasus Pembunuhan Karakter Anak, Dewan Turun ke SDN 2 Meulaboh

Respon Kasus Pembunuhan Karakter Anak, Dewan Turun ke SDN 2 Meulaboh
Ketua dan anggota komisi D DPRK Aceh Barat saat mendatangi SDN2 Meulaboh, Senin (5/8/2019). Foto/Fitriadilanta

Guru: Kami Ketakutan Diteror

CAKRADUNIA.CO, Meulaboh - Komisi D DPRK Kabupaten Aceh Barat merespon kasus pembatalan juara  Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat kabupaten yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Aceh Barat, akhir Juli lalu.

Ketua dan anggota dari komisi  DPRK yang membidangi pendidikan turun ke SDN 2 Meulaboh, Senin (5/8/19) guna memastikan kronologis kejadian hingga merugikan peserta didik.

Dalam sambutannya di ruang kerja guru SDN 2, Ketua Komisi D DPRK, Banta Lidan,S.Pd.I didampingi anggota Masrizal, S.Si dan Erliana didepan dewan guru dan juga komite sekolah menyayangkan peristiwa itu terjadi.

"Masalah tersebut bila diredam maka selesai, bila dilanjutkan juga bisa. Namun yang menjadi persoalan tindakan dinas pendidikan telah melukai siswa seharus segera direspon supaya tidak meluas ke sekolah lainnya di masa depan," ujar politisi Partai Aceh itu tegas.

Baca juga : Duta Aceh Barat Dibatalkan, Warga: Kami Akan Gugat Ubah Hapus

Komisi D hadir ke sekolah setelah menerima pengaduan wali murid Dody Gusnandar yang anaknya siswi SDN 2 Meulaboh,  Senin (5/8/19) datang ke ruang komisi D menceritakan peristiwa memilukan itu. Maka tindak lanjut dari laporan itu komisi langsung turun ke sekolah guna memastikan kebenaran pengaduan warga.

"Kalau kasus ini perlu rekomendasi dewan untuk proses hukum.  Maka, wakil rakyat tersebut berjanji siap memgeluarkan, supaya semua masyarakat tidak diperlakukan semena-mena," sebutnya. 

Banta Lidan

Masrizal,S.Si pada kesempatan tersebut mengakui sangat kecewa atas kejadian yang siswa kelompok tari menjadi korban kebijakan. Namun dia heran, kenapa hanya wali murid saja yang bergerak sementara yang dirugikan juga sekolah.

"Seharusnya sekolah komplain atas keputusan tersebut, bukan hanya wali murid. Ini yang dirugikan sekolah, tapi pihak dewan guru tidak ada upaya penyelamatan sang juara. Kasus itu harus segera dievaluasi, sehingga kedepan tidak ada lagi terulang dan tidak boleh dibiarkan hilang begitu saja, katanya heran.

Anggota komisi lain, Erliana  juga prihatin kasus itu, karena bisa berdampak pada psikologi anak, kedepan mereka trauma, tidak lagi mau mengikuti lomba. Akhirnya perkembangan generasi muda kita mengalami kemunduran mental, maka hal tersebut perlu disikapi serius.

"Anak-anak harusnya tidak menjadi korban, perlu dikaji mendalam. Apa masalah dan indikasi lain ada atau tidak, hal ini mesti diketahui dengan jelas," ujarnya sambil meyakinkan ketua komisi.

Dewan guru yang tidak mau disebutkan namanya dalam pertemuan itu sambil menangis kepada anggota DPRK mengatakan, mereka bukan tidak mau mengkomplain peristiwa itu, namun para tenaga didik takut nanti dimutasi ke sekolah yang jauh dari biasanya.

"Kami diteror dengan handphone, dan ada juga pelatih kelompok seni lain yang datang untuk menakutkan sekolah bahwa jika kasus tersebut diperpanjang bisa dilaporkan ke ranah hukum karena pencemaran nama baik" ujar salah seorang guru dengan nada suara ketakutan.

Mereka mengatakan, bila dimutasi seorang gara-gara memperjuangkan hak murid maka semua akan mogok, supaya kasus ini tak lagi terhalang.

Sebelumnya diketahui,  berdasarkan pengumuman dewan juri lomba, grup tari dari SDN 2 Meulaboh terpilih menjadi juara pertama pada seleksi FLS2N tingkat kabupaten Aceh Barat yang dilaksanakan dinas pendidikan setempat 29 July 2019.

Keceriaan anak sekolah dasar tersebut bergema  kesejumlah sekolah lainnya karena Cut Putri Widia Weta , Fahratu dan Putri Maulida berhak berangkat ke Banda Aceh sebagai duta Aceh Barat ke festival tingkat propinsi Aceh. Namun, yang terjadi keesokkan harinya  dewan juri diganti dan dibentuk baru lalu sang juara pun dibatalkan hingga membuat banyak pihak kecewa. 

Fitriadilanta

Komentar

Loading...