Nursyidah, M.Sc, Sosok Pekerja Ikhlas dan Disukai

Nursyidah, M.Sc, Sosok Pekerja Ikhlas dan Disukai
Nursyidah, ST.,M.Sc.,MIPR

BAGI warga di pedesaan, guru PAUD dan peserta pelatihan juga ibu-ibu kursus di Aceh Barat yang pernah bertemu dan mendapat ilmu darinya, melihat sosok Nursyidah, ST, M.Sc, MIPR (41), sebagai seorang pejabat yang sangat familiar dan peduli dengan keberadaan mereka tanpa membeda-bedakan.

Anak-anak jalanan sekalipun yang biasanya super cuek, ditangan perempuan pekerja keras ini, mereka mendengar anjuran-anjuran wanita kelahiran Gampong Yogya, Kecamatan Kuala Kabupaten Nagan Raya ini dan manut. Bahkan, diakhir pertemuan mereka seperti tak ingin berpisah dan minta nomor teleponnya agar suatu saat mereka bisa menyapa dan minta  petuah dari sang guru.

Begitu juga dengan teamworknya, mereka sering keteteran mengikuti kecepatan dan keseriusan atasannya dalam bekerja untuk mempersiapkan program yang dirancang Bu Nur, begitu nama sapaan akrabnya.

Bekerja dengan Nursyidah punya tantangan sendiri. Harus terukur dan outputnya jelas, sehingga semua yang diprogramkan akan mencapai sasaran seperti yang diinginkan dan bermanfaat bagi masyarakat banyak serta memiliki pandangan untuk maju dan berkembang dalam waktu yang cepat.

“Saya tipe pekerja cepat. Setiap hasilnya harus terukur sehingga dihasilkan output yang jelas. Jangan biarkan pekerjaan menumpuk sehingga jadi persoalan yang menyusahkan,”katanya tegas saat diwawancarai di Banda Aceh, Rabu (11/9/2019).

Nursyidah saat memanen jamur di LPK APEC Binaan Dinas Pendidikan Aceh Barat. Ist

Karakter itu, barangkali tak terlepas - karena dirinya didukung oleh ilmu Magister bidang Managemen Perencanaan yang diperolehnya di Universitas Utara Malaysia.

Wanita energik kelahiran tahun 1978 ini, memiliki banyak pengalaman birokrasi di Aceh Barat. Pernah mendapat kepercayaan menjadi Ketua Sekretariat Forum Tanggungjawab Sosial Lingkungan Perusahaan Aceh Barat, ketika Teuku Ahmad Dadek sebagai Kepala Bappedanya, sehingga penyaluran dana CSR di Aceh Barat tepat sasaran dan koordinasi dengan forum berjalan sangat baik.

Baca juga: Setelah Mengundurkan Diri, Nursyidah ‘Dibuang’ ke Kantor Camat Bubon

Dia juga pernah menjabat sebagai Kasubbid Ekonomi Bappeda Aceh Barat (2015-2016), Kasubbid Pemerintahan dan Pemberdayaan Masyarakat Bappeda Aceh Barat (2017), serta menjabat Kasubbid Pendidikan dan Keistimewaan Aceh Bappeda Aceh Barat (2018 – 17 Pebruari 2019).

Selama hampir 10 tahun di Bappeda Aceh Barat, perempuan dua anak ini sangat sering diundang kemana-mana menjadi nara sumber untuk membagikan pengalamannya dalam pengelolaan program CSR dan program pelayanan dasar lainnya baik di pemkab dan kota dalam propinsi Aceh maupun di luar.  

Baginya bekerjasama dengan mitra dunia usaha (TJSLP) dan mitra daerah sebagai Focal Point KOMPAK Aceh Barat, memiliki pengalaman yang berarti dalam meningkatkan Capacity Building-nya sebagai pelayan publik di Pemkab Aceh Barat.

Atas keberhasilan tersebut, alumni Teknik Industri Intitute Teknologi Medan ini, pada 18 Pebruari 2019 lalu oleh Bupati Aceh Barat Ramli MS dipromosikan dan dilantik menjadi Kepala Bidang PAUD dan Dikmas Dinas Pendidikan Aceh Barat. Seminggu menjabat eselon 3, dia langsung terbang untuk menghadiri acara workshop PAUD Diknas yang dilaksanakan Kementrian Pendidikan RI di Pelembang.

Nursyidah saat menyemangati anak-anak jalanan hingga manut kepadanya.Ist

Dasar pekerja keras, begitu mendapat kepercayaan sekembali dari Palembang, Nursyidah langsung melakukan pemetaan masalah, baik yang ada di PAUD, Lembaga Kursus Pendidikan (LKP) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Aceh Barat.

Saat mengetahui bahwa kebutuhan PAUD dan DIKMAS terletak pada pembinaan, perhatian, dan keperdulian yang dirasa masih sangat kurang, Nursyidah mulai mengatur beberapa langkah dan strategi untuk melakukan pendekatan dan mengambil kepercayaan mereka kembali agar koordinasi dan komunikasi dapat terjalin lebih harmonis antara mereka dengan Dinas Pendidikan Aceh Barat dalam hal ini Bidang PAUD dan DIKMAS.

Untuk menyemangati dan menumbuhkembangkan kembali  kepercayaan setiap lembaga tersebut, Nursyidah mulai melihat peluang dan menjemput langsung berbagai program, baik yang bersumber dana dari APBA dan APBN ke Kementrian Pendidikan RI di Jakarta.

Untuk meraih dana belasan milyar dalam waktu dekat bukan kerja gampang. Namun, Nursyidah mampu menjawab tantangan dan kepercayaan pusat dalam tiga hari sekembali dari Jakarta.

“Alhamdulillah melalui pertemuan-pertemuan baik lokal maupun nasional, dihasilkan beberapa program PAUD dan Dikmas, baik dari propinsi maupun dari pusat,” sebut Nursyidah senang.

Meski baru menjabat sekitar tujuh bulan, kerja keras alumni SMAN 1 Meulaboh ini sudah mendapatkan hasil yang luar biasa. Dalam hitungan bulan untuk tahun 2019, berhasil menjemput dana APBN 2019 sebesar Rp 1,3 milyar lebih (masing-masing untuk PAUD Percontohan Rp 1,150 milyar, Bantuan Sarana dan Prasarana PAUD Rp 167 juta serta Penyelenggaraan PAUD Pra SD Rp 35 juta).

Melakukan sikronisasi dan harmonisasi DAK Fisik bidang pendidikan dengan staf Kementrian Pendidikan RI di Jakarta belum lama ini.Ist

Sedangkan tahun 2020, untuk pertama kalinya DAK Fisik terbuka untuk PAUD diberikan kepada Aceh Barat. Kesempatan tersebut, tidak disia-siakan oleh Nursyidah, bekerja mulai pagi hingga tengah malam bersama Tim DAK Fisik Dinas Pendidikan Aceh Barat mulai melakukan pertemuan lembaga, mengumpulkan kebutuhan/usulan lembaga, hingga menguploadnya ke dalam Sistem DAK Krisna 2020 bersama Bappeda Aceh Barat.

Alhasil, Dinas Pendidikan Aceh Barat sukses mengajukan kebutuhan PAUD sebesar Rp 12,131 milyar untuk tahun 2020, oleh pihak Direktorat PAUD dan DIKMAS Jakarta menyampaikan bahwa itu adalah nilai yang sangat fantastis jika dibandingkan dengan Kab/Kota dan propinsi lain di Indonesia.

Selain jumlah DAK Fisik PAUD 2020, Nursyidah dan timnya juga memperjuangkan Program Pelatihan dan Pembinaan Pendidikan non formal dengan anggaran sekitar Rp 500 juta yang bersumber dari dana Otsus Aceh untuk tahun 2020.

Atas keberhasilan pengajuan DAK Fisik PAUD sebesar Rp 12,1 Milyar, Direktorat PAUD dan Dikmas Kementrian Pendidikan memberi apresiasi kepada Dinas Pendidikan Aceh Barat dalam bentuk Program Unit Gedung Baru (UGB) PAUD percontohan.

Keberhasilan tersebut, tidak terlepas dari kerjasama para ibu-ibu PAUD di Aceh Barat, Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Barat melalui Bidang PAUD dan DIKMAS, dan Kasi Sarpras Dinas Pendidikan Aceh Barat, Azhari, S.Kom.

 “Keberhasilan ini bukan milik saya seorang, tapi milik Aceh Barat,”tutur Wakil Sekretaris Perhumas Aceh ini tersenyum.

Hasil binaan Nursyidah, Aceh Barat mendapat tiga juara pada lomba Apresiasi GTK PAUD dan Dikmas se-Aceh, Mei 2019 lalu. Ist 

Menurut anak pasangan alm Husaini – Mariana ini, bekerja dengan ikhlas untuk kemaslahatan ummat menjadi kenikmatan tersendiri yang tak bisa dinilai dengan rupiah. Selain berguna untuk orang banyak, terutama bagi mereka yang tidak mampu dan rentan, juga menjadi amal ibadah baginya sebagai ASN.

“Saya percaya, setiap proses yang maksimal yang di mulai dan di ikuti dengan niat yang baik, maka hasilnya juga akan baik. Tapi, tentu saja setiap proses menuju keberhasilan pasti ada hambatan dan tantangan. Dengan mengucapkan Bismillahirrahmannirrahim saya jalani saja. Alhamdulillah Allah SWT mengabulkanya,” urai Nur bersyukur.

Namun, semua kerja keras itu kini dilupakannya. Karena hari Rabu, 4 September 2019 pekan lalu, wanita berbintang scorpio ini telah membuat surat pengunduran diri sebagai Kabid PAUD dan Dikmas Dinas Pendidikan Aceh Barat dan surat tersebut telah diserahkannya langsung kepada Kadis Pendidikan Aceh Barat Drs Ridwan Yahya hari itu juga.

Cakradunia.co sempat menanyakan kenapa harus mengundurkan diri, sedangkan program dari pusat sudah di ACC dan segera akan berjalan.

“Saya tak bisa bekerja maksimal, karena suasana sudah tak nyaman lagi, lebih baik saya mundur,” katanya singkat dengan suara agak tersekat.

Apa gerangan yang dihadapinya, sehingga alumni SMPN 1 Meulaboh ini tak mau mengungkapkannya ke publik. Dia memilih lebih baik diam dan ketidaknyamanan itu dirasakanya sendiri. 

Lalu, cakradunia coba menebak-nebak dengan mundur dirinya sebagai penanggungjawab anggaran DAK PAUD tahun 2019 dan 2020, apakah manajemen PAUD dan pendidikan non formal yang sedang dibinanya selama ini, masih bisa berkembang dengan optimal atau tidak.

Apakah pemanfaatan dananya tepat sasaran atau tidak. Dan yang sangat penting, apakah sepeninggalannya, dana DAK yang didapat dengan cepat dan sudah di-ok-kan pusat Rp 13,8 milyar lebih masih dikucurkan untuk Aceh Barat? Semoga programnya tetap berjalan, tidak dihapus ditengah jalan.

Helmi Hass

  

Komentar

Loading...