MaSA Ingin Berbenah, Setelah Lama “Merenung”

MaSA Ingin Berbenah, Setelah Lama “Merenung”
Pengurus MaSA foto bersama menjelang berbuka puasa di Tasafo Caffe Taman Sari Banda Aceh, Jumat (31/5/2019).

MAJELIS Seniman Aceh (MaSA) yang terbentuk, Jumat 9 Pebruari 2018 lalu sempat lama diam. Kondisi ini, bisa jadi karena pengaruh suasana politik, para pengurus yang notabene seniman “tiarap” atau juga sedang “merenung” menunggu apa yang akan terjadi setelah pesta rakyat yang sangat hinggar-binggar itu berakhir.

Setelah lama tidak bertemu, Jumat sore, 31 Mei 2019, pengurus MaSA, baik pengarah, pembina dan pengurus harian serta bidang berkumpul di Tasafo Cafee, Taman Sari Banda Aceh. Sambil menunggu waktu buka puasa bersama – para pengurus bercengkarama saling melepaskan rindu.

Suasananya cair, pengurus dari luar kota ikut hadir, diantaranya ada bang Razuardi Essek, Plt Kepala BPKS, Rosni Idham dari Kota Meulaboh, Ayah Panton dari Aceh Utara dan 20-an pengurus lain yang berdomisili di Banda Aceh dan Aceh Besar.

Banyak hal yang disampaikan oleh pengurus MaSA dalam forum itu yang kemudian diteruskan selepas shalat tarawih hingga dini hari. Diskusi panjang itu, diharapkan bukan hanya untuk melepaskan rindu atau kangen-kangenan saja – lalu setelah itu pengurus kembali “merenung” untuk waktu yang lama, sehingga lupa amanah yang dipikulkan kepada MaSA lima tahun mendatang.

Razuardi Essek (kiri), Rafli Kande dan Nab Bahany (kanan) terlibat diskusi. Foto/cakradunia.co/Helmi Hass

Bang Essek, pejabat yang juga seniman perupa Aceh, sangat senang bisa bertemu dengan teman lama yang selama ini berpencar dimana-mana.

“Malam ini saya bahagia dan mudah-mudahan MaSA menjadi sebuah wadah yang mampu menyatu dan menggairahkan para seniman untuk berkarya di masa mendatang,”kata Essek bersemangat.

Essek sempat berbagi cerita bagaimana memberi ruang dan semangat kepada seniman  di Aceh Tamiang, ketika beliau memangku jabatan sebagai sekda. Untuk menghidupkan dunia seni di daerah, sebutnya, membutuhkan banyak hal, harus serius, sabar dan tekun mengelolanya.

Dari diskusi lanjutan hingga larut malam banyak keinginan dan harapan yang disampaikan, diantaranya ingin menggelar acara-acara besar dan mengajukan draf qanun Majelis Seniman Aceh.

Namun, dari banyak program itu, malah Rafli Kande menyarankan yang paling utama sekarang pengurus fokus segera memperkuatkan keberadaan lembaga MaSA secara formal. Karena draf qanun yang sudah disiapkan pertengahan tahun lalu belum tersampaikan kepada pemerintah.

Sastrawan Aceh D Kemalawati mendukung bertambahnya lembaga yang bergerak di bidang kebudayaan, seperti MaSA. Tetapi jangan seperti ‘putri malu’, jadilah lembaga yang kokoh, mandiri dan menjadi inspirasi bagi lembaga lainnya.

“Saya melihat itu mungkin sekali terjadi, karena yang menjadi pengurus MaSA adalah para tokoh yang sudah tak diragukan lagi dalam membangun komitmen berkesenian,”kata Kepala Taman Budaya Aceh yang baru-baru ini menjadi pemenang utama lomba menulis puisi Islami Asean di Sabah, Malaysia.

Harapan penyair Asean ini, harus menjadi pemicu bagi pengurus MaSA bangkit untuk membangun kepercayaan terhadap keberadaan lembaganya. Semoga. (Helmi Hass)

  Ketua MaSA, Ayah Panton dan pengurus foto bersama usai berbuka. Foto/Ist

Komentar

Loading...