Konservasionis Indonesia Minta Kepala Negara Komit Terhadap Aksi Iklim Global

Konservasionis Indonesia Minta Kepala Negara Komit Terhadap Aksi Iklim Global
Farwiza Farhan, ketika terpilih sebagai salah satu penerima penghargaan Whitley Award Winner 2016, di London. Foto: Paul Hilton for HaKA, Dok. Whitley Award

CAKRADUNIA.CO, Banda Aceh - Konservasionis Indonesia dari Sumatra Farwiza Farhan, mendesak para kepala negara berkomitmen untuk bertindak dan memenuhi janji Perjanjian Paris dan Konvensi Keanekaragaman Hayati.

Permintaan Farwira Farhan disampaikannya saat berbicara pada pleno pembukaan Konferensi Women Deliver 2019 di Vancouver, Kanada, Senin 3 Juni 2019 lalu. 

Farhan berbicara di panggung bersama Perdana Menteri Kanada, Justin P.J Trudeau, Uhuru Kenyatta Presiden Kenya, Nana Akufo Addo Presiden Ghana dan Sahle Work-Zewde Presiden Ethiopia.

Farhan meminta kepada kelompok tinggi untuk berkomitmen pada tindakan ambisius tersebut, pernyataannya disambut tepuk tangan PM Kanada Trudeau, Work-Zewde dan Kenyatta.

Farhan juga meminta para kepala negara untuk melakukan tindakan yang kuat pada negosiasi multi-lateral yang akan datang pada tahun 2020 tentang pelestarian keanekaragaman hayati bumi dan meningkatkan komitmen nasional untuk pengurangan emisi melalui negosiasi iklim internasional. 

Ia juga menunjukkan bahwa semua negara menderita kerusakan lingkungan. Selama kunjungan ke Gunung Kilamanjaro di Kenya dan alam di Kanada katanya, perubahan iklim dan kegiatan komersial memaksa perubahan besar pada kehidupan masyarakat, membawa alam ke ambang kepunahan.

Ini adalah tantangan yang sama dengan organisasi Farhan, HAkA, berupaya untuk berjuang di Indonesia, penghasil emisi karbon terbesar kelima di dunia.

“Laporan sains PBB terbaru tentang keanekaragaman hayati memberi tahu kita satu juta spesies akan punah di masa mendatang. Ini sangat mengganggu karena kepunahan selamanya. Sering kali kita tidak tahu jasa ekosistem yang diberikan oleh spesies sampai mereka hilang," kata Farhan dalam forum itu.

Langkah Farhan dipandang sebagai hal yang vital. Kanada adalah pemain utama dalam negosiasi iklim, karena AS bertujuan untuk keluar dari Perjanjian Paris di bawah kepresidenan Trump.

“Sebanyak 196 negara penandatangan Perjanjian Paris berkewajiban untuk mengumumkan peningkatan pengurangan emisi gas rumah kaca pada tahun 2020,”sebut Farhan.

Ethiopia dipandang sebagai pemimpin dalam energi terbarukan, penting dalam perang melawan perubahan iklim, di antara negara-negara Afrika.

Tekanan dari negara-negara lain dan komunitas internasional sangat penting untuk menggeser Indonesia asli dari pengurangan tutupan hutan secara cepat untuk membuka jalan bagi pertanian komersial menjadi melindungi hutan yang tersisa yang menyediakan penyerap karbon vital.

Women Deliver merupakan konferensi terbesar di dunia yang didedikasikan untuk kesetaraan gender dan mempromosikan hak-hak perempuan di seluruh dunia.

Tahun ini mengambil tema Power, Progress, Change. Farhan diangkat sebagai contoh kepemimpinan perempuan oleh forum global ini, karena pekerjaannya menghubungkan solusi yang ditemukan di komunitas akar rumput, terutama melalui perempuan, dengan perubahan yang dituntut dari forum politik nasional dan internasional.

Farwiza Farhan memimpin organisasi Indonesia Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), organisasi akar rumput yang berbasis di Banda Aceh. Farwiza juga merupakan anggota pendiri The New Now, sebuah organisasi yang bertujuan untuk mengatasi tantangan terberat dunia melalui aksi kolaboratif dan mengangkat pekerjaan serta suara-suara muda yang berani. 

Syukran Jazila

    

selamat jalan BJ Habibie

Komentar

Loading...