TKW Disiksa Majikan

DPRA Minta Pemda Dampingi Proses Hukum Annisa di Malaysia

DPRA Minta Pemda Dampingi Proses Hukum Annisa di Malaysia
Asrizal H Asnawi

Bekas Disiksa Tubuh Annisa Memar

CAKRADUNIA.CO, Banda Aceh - Anggota DPRA, Asrizal H Asnawi meminta Pemda Aceh  melakukan pendampingan kepada Annisa selama proses hukum di Malaysia. Annisa merupakan TKW asal Nisam, Aceh Utara yang mengalami penyiksaan selama bekerja di Malaysia sejak tahun 2017.

Asrizal mengharapkan, agar Annisa bisa segera berkumpul dengan keluarganya di Aceh dan pemda juga harus segera memberikan keterampilan dan modal usaha yang cukup untuk mendukung ekonomi keluarga Annisa.

Kasus yang menimpa Anisa, sebutnya,  mungkin ada kaitan dengan perdagangan manusia yang kini terjajdi mana-mana terutama calon TKW yang gampang ditipu.

Untuk itu politisi PAN ini, meminta Kapolda Aceh agar memerintahkan jajarannya untuk menyelidiki dan mengungkap kasus perdagangan manusia ini sampai tuntas, pelakunya bisa dijerat dengan hukuman yg berat dalam waktu cepat, agar kasus yg sama tidak terulang lagi bagi anak Aceh yang mencari rezeki diluar negeri.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada Duta Besar RI, Bapak Rusdi Kirana dan semua pihak di Kedutaan Besar Republik Indonesia Malaysia di Kuala Lumpur yg telah menampung saudari kami , Annisa, " ujarnya. 

Kini, kata Asrizal, pihak KBRI juga telah melaporkan mengenai kasus yang menimpa Annisa kepada pihak Kepolisian Diraja Malaysia.

"Kami berharap adik kami Annisa bisa mendapatkan keadilan yg sebenarnya, serta mendapat hak haknya yang terabaikan," ujar Asrizal.

 
Selama ini, ia juga mendapat informasi sejumlah tokoh Aceh di Malaysia yang peduli terhadap keadaan Annisa sudah diminta keterangannya terkait kasus itu. 

Annisa berangkat ke Malaysia pada November 2017 melalui sebuah agen tenaga kerja untuk menjadi TKW dengan harapan bisa meringankan beban keluarga. Namun, selama di Malaysia, keluarganya hanya sekali bisa berkomunikasi dengan Annisa, itupun hanya menggunakan handphone majikan.

Dan Annisa pun juga hanya sekali saja mengirim uang sebesar Rp 1,5 juta melalui agen, setelah tiga bulan bekerja. Setelah itu tidak mengirim uang dan tidak ada kontak lagi dengan keluarga.

Dalam kurun waktu hampir dua tahun, akhirnya terdengar berita mengejutkan, ternyata Annisa menjadi korban kekejaman majikannya. Akibat dianiaya majikan, sekujur tubuhnya mengalami luka memar.

"Keinginan mulianya ingin membantu biaya hidup adik-adik dan ibunya di kampung halaman tak mampu diwujudkannya, apa lagi ayahnya telah meninggal dunia," cerita Asrizal.

 Salah seorang tokoh Aceh yang telah mendapat anugerah Datok dari Kerajaan Malaysia yaitu Datok Mansyur meminta pengiriman tenaga kerja asal Aceh ke Malaysia harus diawasi oleh Pemerintah Indonesia, terkhusus Pemerintah Aceh. 

Datok Mansur mengatakan yang melihat langsung kondisi Annisa saat ini, berat dugaan banyak pihak disana bahwa Annisa korban perdagangan manusia (human traficking). Karena sudah lama bekerja di Malaysia, namun perizinan tinggal dan izin kerja tidak diselesaikan oleh agen penyalur jasa tenaga kerja asal Indonesia.

Annisa juga tidak mendapatkan gaji selama dia berkerja, kecuali hanya tiga bulan pertama.

Asrizal juga meminta kepada seluruh masyarakat Aceh agar lebih hati-hati menerima bujukan para agen ilegal tidak bertanggung jawab.

"Biasanya agen berjanji akan membawa dan memperkerjakan kita di Malaysia atau negara lain, tanpa ada keterampilan dan kemampuan khusus. Cek dulu izin agen tersebut atau paling tidak laporkan kepada Pak Geuchik atau kepala desa bila ingin berangkat merantau, sehingga kasus Annisah tak terulang lagi,”tutup Asrizal mengingatkan (SI)

Komentar

Loading...