Dituduh Cemar Nama Baik, Guru SDN 2 Meulaboh Diadukan ke Polisi

Dituduh Cemar Nama Baik, Guru SDN 2 Meulaboh Diadukan ke Polisi
Melda Sari ( kanan) dan Evi Susanti (kiri) didampingi dewan guru SDN 2 Meulaboh, memperlihatkan surat panggilan klasifikasi dari Reskrim Polres Aceh Barat kepada awak media disalah satu Warkop dalam kota Meulaboh, Rabu (14/8/19). Foto/Cakradunia.co/Fitriadilanta

Melda Sari: Saya Tak Menghina Orang  

CAKRADUNIA.CO, Meulaboh – Dituduh mencemarkan nama baik, dua guru SDN 2 Meulaboh pendamping siswa yang ikut Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat kabupaten Aceh Barat diadukan ke Polres Aceh Barat oleh pelatih tari SDN 24 Meulaboh, Selasa (13/8/2019).

Atas aduan tersebut, Melda Sari, Rabu (14/8/2019) pukul 09.00 WIB memenuhi panggilan hadir ke ruang unit IV Tipidter Sat Reskrim Polres Aceh Barat guna penyelidikan atas dugaan pencemaran nama baik sebagaimana diatur UU RI Nomor 19 tahun 2016 tentang informasi dan transaksi elektronik.

Melda hadir ke Polres Aceh Barat didampingi kepala sekolah, dewan guru dan wali murid yang pernah menjadi korban kebijakan dinas pendidikan untuk mengklarifikasi cuitannya di facebook terkait alasan teknis pembatalan juara tari oleh dinas pendidikan bersama dewan juri baru.

Kepada media Melda Sari, Rabu (14/8/19)  menjelaskan, benar dia pernah menjelaskan persoalan psikologi anak di facebook setelah mensher link berita salah satu media terkait juara yang dibatalkan. Dalam komentar tersebut ada disebut nama  Susan yang diketahui sebagai pelapor guru ke polisi.

"Saya tidak menulis sesuatu yang merugikan Susan, hanya menyebut namanya saja. Tidak memaki dan bahasa kotor lainnya, lalu kenapa kami dilaporkan kepolisian dengan tuduhan pencemaran nama baik. Ini kan aneh," katanya terheran-heran.

Meskipun demikian, sebagai warga negara yang baik, Melda hadir untuk memberi keterangan terkait tuduhan tersebut sambil memperhatikan screenshot status facebook ke polisi.

“Karena tak menghina orang dan memaki, hanya menyebut namanya dia keberatan, ya kita terima,” jelas Melda bersama terlapor lainnya, Evi Susanti.

Secara tegas Melda mengatakan, akar masalah tersebut memang dari pembatalan juara lomba tari oleh dinas pendidikan Aceh Barat, yang seharusnya juara pertama SDN 2 Meulaboh.

Namun, sehari kemudian berubah juara utama pindah ke SDN 24 dengan pelatih tari diketahui Susan, sehingga mereka berangkat mewakili Aceh Barat ke Banda Aceh dan disana grup tari yang dibawa dinas pulang tanpa juara

Akibat dari dampak psikologis anak, wali murid bergerak berjuang mulai memberitakan ke media, melaporkan ke komisi D DPRK sampai menghubungi pengacara.

“Bukan sekolah yang melakukan itu, walau Susan pernah datang ke sekolah kami menyampaikan sesuatu yang kesannya menakut-nakuti dewan guru dengan ancaman tertentu,” urainya

Melda dan para dewan guru SDN 2 Meulaboh mohon dukungan dan doa para pemerhati pendidikan Aceh Barat, semoga mereka kuat dan siap menghadapi  proses hukum yang berlaku.

Setelah Melda dipanggil polisi akan menyusul guru lainnya yakni Evi Susanti. Dewan guru SDN2 mendoakan agar semuanya berjalan lancar. 

Sampai berita ini ditayangkan, belum ada upaya dinas pendidikan dalam menyelesaikan masalah tersebut. Dihubungi beberapa kali Kadis Pendidikan Aceh Barat, Ridwan Yahya tidak mengangkat telepon, lalu disusul dengan pesan SMS juga belum ada balasannya.

Fitriadilanta

Komentar

Loading...