Buntut Kapal Tanker Disita, Iran Protes Inggris

Buntut Kapal Tanker Disita, Iran Protes Inggris
Kapal tanker minyak Grace 1 yang diduga membawa minyak mentah Iran ke Suriah terlihat di dekat Gibraltar, Spanyol, 4 Juli 2019. [Stephen McHugh via REUTERS]

CAKRADUNIA.CO, Jakarta - Marinir Kerajaan Inggris menyita tanker minyak milik Iran di lepas pantai Gibraltar,Kamis (4/7). Kapal itu ditahan karena membawa minyak ke Suriah, dan Iran dianggap telah melanggar sanksi yang ditetapkan oleh Uni Eropa. 

Hal ini sontak membangkitkan amarah Iran dan ketegangan antar negaranya dengan pihak Barat. Kementerian Luar Negeri Iran bahkan memanggil duta besar Inggris di Iran.

Dilansir Reuters, Jumat (5/7), Tanker Grace 1 yang digunakan Iran tersebut disita di wilayah Inggris di ujung selatan Spanyol setelah melakukan pelayaran mengelilingi Afrika serta rute panjang dari Timur Tengah menuju muara Mediterania. 
Menurut Spanyol, aksi penyitaan ini dilakukan atas permintaan Amerika Serikat (AS) dan terjadi di perairan Spanyol. 

Namun, Kementerian Luar Negeri Inggris hingga kini belum memberikan tanggapan terkait tuduhan tersebut. 

Tuduhan itu juga semakin mencuat ketika John Bolton, penasihat keamanan nasional AS ikut mendukung aksi Inggris dan mengatakan bahwa itu merupakan "berita yang sangat bagus." 

"Amerika dan sekutu kami akan terus mencegah rezim di Teheran dan Damaskus untuk mengambil keuntungan dari perdagangan gelap ini," cuit Bolton di Twitternya. 

Akibat insiden ini, Kementerian Luar Negeri Iran memanggil duta besar Inggris di Iran untuk menyerukan "keberatan yang sangat kuat dari pihaknya (Iran) terhadap penyitaan kapal yang dianggap ilegal dan tak dapat diterima."
 
Ada pula sejumlah pihak yang meragukan kepemilikan Iran atas tanker Grace 1 yang mengibarkan bendera Panama itu. 

Hingga kemarin, Otoritas Maritim Panama akhirnya mengkonfimasi bahwa tanker itu tak lagi terdaftar dalam daftar kapal internasional Panama sejak 29 Mei lalu. 

Sementara itu, pihak berwenang Gibraltar sendiri tidak menyebutkan asal minyak ataupun pemilik tanker ketika mereka menyitanya. 

Namun, pemerintah Gibraltar percaya bahwa tanker Grace 1 itu sedang membawa minyak mentah ke kilang minyak Baniyas di Suriah. 

"Kilang minyak itu adalah properti yang dikenakan sanksi UE terhadap Suriah. Dengan persetujuan saya, pelabuhan dan lembaga penegak hukum kami meminta bantuan Marinir Inggris untuk melaksanakan operasi ini," kata Fabian Picardo selaku Kepala Kementerian Gibraltar. 

Aksi Gibraltar ini juga disambut baik oleh juru bicara Perdana Menteri Inggris, Theresa May. Penyitaan ini menjadi yang pertama dilakukan oleh Eropa meskipun pihaknya telah melarang pengiriman minyak ke Suriah sejak 2011 silam. 

Ini pertama kalinya UE melakukan aksi terbuka dan cukup agresif. Saya membayangkan ini juga dikoordinasikan dalam beberapa cara dengan AS mengingat bahwa pasukan anggota NATO telah terlibat," ujar Matthew Oresman yang bermitra dengan perusahaan hukum Pillsbury Winthrop Shaw Pittman sekaligus yang memberi nasihat kepada sejumlah perusahaan terkait sanksi-sanksi. 

Oresman juga menambahkan, "Ini kemungkinan dimaksudkan sebagai sinyal kepada Suriah dan Iran, serta AS, bahwa Europa menanggapi penerapan sanksi dengan serius dan UE juga dapat menanggapi tindakan Iran yang mengundang bahaya terkait negosiasi nuklir yang sedang berlangsung." 

Iran menyebut insiden penyitaan ini sebagai 'perang ekonomi' ilegal yang diprakarsai AS guna menghentikan semua penjualan minyak mentah Iran secara global. 

AS juga memberikan sanksi kepada Iran yang diberlakukan tahun lalu setelah Presiden Donald Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran 2015 (JCPOA). 

Sanksi tersebut semakin diperketat sejak bulan Mei dan berhasil mempersulit Iran di pasar minyak utama. 
Permusuhan antara Iran dan AS juga terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir apalagi sejak Washington menuduh Teheran telah menyerang sejumlah tanker di Teluk Oman dan menembaki pesawat nirawak milik AS. 

Selain itu, larangan AS terhadap Iran untuk melakukan pengiriman minyak telah mematahkan aliansi antara Teheran dengan Suriah serta menyebabkan kekurangan bahan bakar di sejumlah wilayah yang dikuasai pemerintah. 

Sebelumnya, negara-negara Eropa sempat menentang keputusan Trump untuk keluar dari kesepakatan nuklir Iran tersebut. Mereka bahkan berjanji akan menolong Iran menemukan cara alternatif untuk kembali melakukan kegiatan ekspor, namun hingga kini rencana tersebut tidak juga membawakan hasil yang signifikan.[]

Komentar

Loading...