iklan US DPRA - Kadisdik

Amir PETA, Pengusaha Sukses Mengayomi Mantan GAM

Amir PETA, Pengusaha Sukses Mengayomi Mantan GAM
Amir PETA (dua kanan) saat menerima kunjungan pejabat dari Kementrian Kelautan dan Perikanan RI ketika panen kedua udang vename hasil produksinya. Ist

MINGGU siang, 27 Juli 2019 lalu, cakradunia.co sempat berbincang-bincang panjang lebar dengan Amiruddin (50), pengurus Sekjen PETA Aceh dan juga Ketua PETA Aceh Barat di sebuah caffe di sudut kota Meulaboh dan dilanjutkan di rumahnya.

Meski berat, anak Tanjong, Kaway XVI, Aceh Barat  yang sudah jadi pengusaha ini, kembali mengisahkan bagaimana pahitnya perjalanan konflik masa lalu.

Amir PETA, begitu nama populernya berharap pengalaman yang menjadi luka yang dalam itu tak terulang lagi di masa yang akan datang. Bahkan kalau bisa, dia ingin menguburkan semua peristiwa yang menelan banyak korban jiwa yang masih tergiang-giang dibenatnya.

“Ngeri-geri sedap”.

Itulah kalimat singkat, mengawali kisahnya dan kata-kata itu yang sering diucapkan masyarakat Aceh Barat, ketika terjadi pertempuran hebat antara kombantan GAM dengan ‘pasukan’ Pembela Tanah Air (PETA) Aceh di masa konflik lalu di berbagai sudut bumi Teuku Umar.

Bicara keberanian, saat itu diakuinya, anggota GAM memiliki senjata dan hidupnya sering berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain atau dari hutan ke hutan lain dan banyak juga yang berkeliaran di kota. Namun, karena kepahitan yang menyakitkan itu menjadi dasar kualitas mental kuat untuk melawan.

Niat masuk Gerakan Aceh Merdeka, sebutnya,  pada dasarnya jika kita baca sejarah terdahulu, justru karena perlakuan negara yang tidak berprikemanusiaan dan faktor keadilan tak mampu lagi diperjuangkan lewat teriakan di media atau di jalanan.

Menurutnya, tidak sedikit hasil bumi Aceh dikeruk untuk dibawa ke pulau Jawa. Emas yang diambil bagi rakyat miskin disekitarnya hanya bisa menatap kosong menyaksikan hebatnya kapal penggali hasil alam di desanya, sehingga pejuang Aceh Alm Tgk Muhammad Hasan Ditiro yang merasa ‘dijajah’ di negerinya, akhirnya memilih untuk mendeklarasi Aceh Merdeka pada tahun 1976 di Gunung Halimun, Pidie.

Di tengah perjalanan perjuangan menuju Aceh Merdeka, sambung Amir, mulai disusupi dan dinaiki penumpang ‘gelap’. Oknum masyarakat memilih selimuti kombantan untuk bebas tekanan hukum atas sejumlah kesalahan, sehingga arah perjuangan perlahan mulai memudar simpatik dan ditinggalkan rakyat.

Amir, Muksalmina dan sahabat lain kongkow bersama sambil istirahat.Ist

Ketika itu muncul PETA, ormas Aceh lainnya, diluar kombatan yang ingin memperjuangkan kemerdekaan. Kelahiran lembaga ini juga mempertaruhkan nyawa untuk membela Indonesia.

“Saat itu, memang sempat membingungkan warga. Ormas apalagi ini,”kata suami Arni Putri mengenang masa lalu.

Namun, kehadiran PETA bukan tanpa alasan. Bisa jadi, faktor arogansi kombantan GAM yang los kontrol komando, sehingga membuat barisan pembela hak-hak sipil bergabung dalam barisan setia pada NKRI.

Pasukan ini tak punya senjata, tak punya uang, namun punya semangat dan kesatria dalam menyuarakan perlawanan pada kombantan. Tak juga sendiri,  diketahui tidak pernah jauh dari pandangan intelejen negara di masa itu.

Untuk pantai barat, Amiruddin yang akhirnya akrab dipanggil masyarakat Amir PETA, karena keberanian dan kemahirannya memimpin pasukan, sehingga organisasi dibawahnya mendapat pujian ‘salut’ dimata petinggi negara.

Bicara perlawanan, tak jarang berbaur dengan mahasiswa, LSM dan organisasi kepemudaan di masa lalu, aktif melakukan gerakan, apel pasukan yang berpakaian seragam, sesekali  bersuara lantang di media massa

Tak sebatas itu, jiwa nasionalisme seakan tak diragukan lagi, sampai pada tahap membakar bendera bintang bulan untuk memenuhi amanat UUPA tahun 2006 yang disepakati anggota dewan.

Amir PETA, sosok masyarakat yang mudah akrap dengan semua orang. Selalu  menghargai berbagai lapisan masyarakat serta setia pada kawan termasuk keluarga anggota peta yang ditinggalkan sang pejuang.

“Itu semua masa lalu,”sebutnya.

Kini seiring faktor usia, Amir lebih bijak dalam bertutur kata, sering dirinya mengucapkan. 

“Lupakan masa lalu, fikirkan masa depan, mengenang masa lalu memperbaiki masa depan, mari terus kita berbuat baik,” ajakan muslihatnya pada kawan-kawan berbagai tingkatan usia.

Konflik Aceh yang menghabiskan waktu 30 tahun lebih, banyak infrastruktur hancur berantakan. Banyak generasi kita larut dalam kebodohan, ekonomi rakyat porak-poranda, membangun itu kembali mesti dalam suasana damai dan cerdas serta ketulusan.

Tanggal 15 Agustus tahun 2005 lalu kenangnya, MoU Helsinki ditandatangani sebagai bukti negara dengan Gerakan Aceh Merdeka berdamai dengan kepentingan rakyat Aceh yang tertimpa tsunami 26 Desember 2004 silam. Maka, senjata GAM dimusnahkan, pasukan BKO di kembalikan pada kesatuan masing-masing.

Sang Sekjend PETA. Ist

PETA juga melakukan rekonsiliasi dengan banyak eks kombantan. ‘Negara berdamai kenapa harus merawat permusuhan’.

Seiring waktu program bersama membangun Aceh digemakan, maka organisasi pasukan loyalispun perlahan memahami keadaan dan tuntutan hari depan

Kini, komandan PeTA sering satu meja dengan eks kombantan GAM, semata-mata karena nawaitu ingin mendoakan yang telah tiada. Mencari sesuatu yang hilang dan mengangkat hal-hal yang telah tenggelam

“Kini kami sudah semeja, Aceh Barat harus segera berbenah,”ajak Amir serius dengan tatapan matanya tajam. 

Demi kepentingan daerah, sering Amir berdiam ditempat untuk memastikan keadaan, agar situasi tak lagi kembali seperti dulu. Namun, baginya konstitusi negara harus menjadi acuan utama dalam hidup berbangsa.

Dikalangan wartawan, aktifis , cendikiawan, politisi dan budayawan melihat sosok Amir PETA jauh lebih bijak dalam bertutur kata, arif dalam persahabatan dan kini sering ketika duduk ngobrol dengan mantan kombatan atau masyarakat sambil menikmati susu etawa. Susu kambing itu, kadang dibagi juga untuk pekerjanya.

Amir selalu mengatakan kepada rekan-rekannya bahwa masa lalu bukan masa depan dan pola fikir juga harus direformasi, sehingga mampu mengikuti perkembangan global yang lari sangat kencang.

Sekarang harus mampu meyakinkan negara dan investor agar mau menyalurkan bantuan dan modal usaha ke pantai barat Aceh, sehingga rakyat punya lapangan kerja, mampu mewujudkan kesejahteraan.

“Jangan lagi larut dalam pertengkaran, sehingga para syuhada tidak pernah menyesal meninggalkan kita. Mari bersatu demi mereka yang telah mewarisi negeri ini kepada kita,”kata Sekjen PETA penuh harap.

Tambak modern milik Amir PETA kini telah sukses di Suak Pandan, dekat samudera Hindia.Ist

Pemberdayaan Ekonomi

Amiruddin selaku sekjen PETA Aceh pasca damai bergegas melihat peluang ekonomi yang dapat menghidupi dirinya, lingkungan dan orang-orang bersamanya. Selain menjadi kontraktor yang dikatagorikan sukses, ayah Sari Agusti ini juga membuka sejumlah usaha lainnya.

Kisah move on dirinya, dimulai pasca tsunami dengan membuka usaha jualan makanan dan minuman di Lhok Geudong di pantai Suak Indrapuri kota Meulaboh, disana ada sebuah caffe miliknya yang diberi nama Taman Indah Sari

Semasa dirinya fokus pada usaha jualan tersebut, banyak pejabat dalam maupun luar daerah berkunjung kesana.

Namun, usaha tersebut akhirnya ditutup dengan alasan tertentu dan salah satunya banyak kader PETA meminta bantuan kerja padanya. Sementara lahan di caffe itu sangat terbatas dan hanya membutuhkan sejumlah tenaga kerja saja.

Dasar itulah, Amir memberanikan diri dan melebarkan sayapnya ke bidang pengangkutan kapal dan melahirkan sejumlah kontrak kerjasama dengan sejumlah perusahaan, termasuk bongkar muat batu-bara dengan perusahaan tambang di Aceh Barat yang hingga kini masih dilakukannya.

Awalnya, agak sulit karena bermodalkan terbatas. Namun, keberanian itu telah mengantarkan dirinya menuju tangga kesuksesan dengan membuka jaringan kerja yang baik dan terpecaya.

Setelah dua tahun dari 2015 dan 2016 mengumpulkan uang lewat bongkar muat batu bara, Amir melirik usaha perikanan udang dengan membuka tambak udang modern tahun 2017 seluas 20 hektar.

Ketika tambak sudah jalan dan sempat dikunjungi pihak Kementrian Kelautan dan Perikanan RI, sebagai kontraktor angkutan batu bara tetap dijalani beriringan. Malah, dibawah payung Jaya Kontruksi, perusahaannya telah memperkerjakan 156 orang dan hampir semua digunakan anggota PETA.

Kini, para generasi muda yang setia dengannya di masa lalu telah mendapat kesempatan kerja hingga menuju kemapanan ekonominya. Bukan, hanya pasukan PETA saja, sejumlah mantan kombantan dan warga biasa juga telah bersandar kepada dirinya, termasuk politisi yang kembali ke dunia usaha.

Amir juga dikenal sebagai sosok yang piawai memanfaatkan potensi alam yang ada, dia membuka tambak udang vename raksasa pertama di Aceh Barat, tepatnya berada di lintasan Meulaboh-Banda Aceh kawasan Gampong Suak Pandan Kecamatan Sama Tiga.

Tidak tanggung-tanggung usaha tersebut ternyata mampu menyerap 50 tenaga kerja yang diprioritaskan masyarakat lokal sekitar tambak yang ada di desa.

Usaha dengan menggunakan teknologi modern milik bos PeTA itu, kini melebar kesahabatnya yang tertarik membuka usaha tambak, salah satu mantan kombantan GAM, Deyan Moor yang secara perlahan dan pasti usahanya terus bekembang.

Amir menjadi motivator ujung dalam menggerakkan ekonomi ‘para pejuang’ sehingga Aceh Barat mampu melahirkan lahan pekerjaan baru untuk masyarakat desa. 

Buktinya, kini hampir 10 titik usaha yang dibinanya bakal menjadi petani tambak yang sukses di masa mendatang dan pasti akan banyak menyedot tenaga kerja. Malah, ada satu binaannya  mantan Danyon 116 Aceh Barat, Dimar, telah memanen dua hektar.

Selain itu juga ada, Aksa, anak mantan direktur kredit bank di Aceh yang sudah berhasil panen. Anak muda ini, sebut Amir, dulu buka usaha di Jakarta, melihat perkembangan usaha udang menjanjikan, Aksa minta ikut dibina dan sekarang sudah menuai hasilnya.

Gerakan ekonomi Amir, kini bukan hanya di Aceh Barat saja, tapi juga sudah membina seorang petani tambak di kabupaten Aceh Jaya dan sudah hasil. 

"Tambaknya yang di Aceh Jaya, sebenarnya dia adalah orang Nagan Raya. Dia juga sudah memanen hasil usahanya,"turu Amir dengan senang yang pada 5 Juli lalu genap berusia 50 tahun.

Amiruddin.ist

Kini, selain punya dirinya dan Deyan Mor di Suak Pandan, tambak binaannya yang mulai tumbuh di Suak Seuke, Suak Breuh Aceh Barat, di Patek, Aceh Jaya dan sejumlah tempat lain. Diperkirakan akan terus muncul tambak-tambak baru, karena banyak warga yang ingin mengikuti jejak Amir yang sudah sukses.

Amir kini ingin selalu mewujudkan motto,  "Jadilah manusia yang bermanfaat". Menjaga damai, masyarakat harus cerdas dan kawan-kawan dibantu untuk mencari hidup layak,  PETA terus aktif walaupun dengan kegiatan sosial kontrol dan kampanye positif.

Tekat ayah tiga anak ini, ingin mendatangkan banyak investor ke bumi Teuku Umar tak pernah berhenti. Dalam diri terus menggelora, bagaimana teman-temannya dan orang-orang kampung bisa hidup layak dan mampu menyekolahkan anak-anak lebih baik.

Untuk mewujudkan impiannya, alumni D3 Unyiah ini, terus membangun dan membina jaringan ke tingkat nasional dan luar negeri. Mudah-mudah impiannya akan dikabulkan Allah SWT.

“Bukan sekedar hisapan jempol, bila masyarakat cerdas dan keamanan terjamin serta kerja keras. Insya Allah, impian itu segera akan menjadi kenyataan,”ungkap Amir yakin, sambil menghembuskan asap rokok dan meneguk sisa kopi terakhirnya di sebuah caffee yang masih hiruk pikuk di sudut kota Meulaboh. Semoga.

Tim Cakradunia

Komentar

Loading...